Para Kyai Bahas Konsep Fiqih Organisasi

0
565
lambang-NU

Surakarta, nujateng.com – Para kyai yang tergabung dalam Majma’ Buhuts An-Nahdliyah (Forum Kajian ke-NU-an) membahas konsep Fiqih Organisasi.  Konsep ini untuk membuat pedoman baku bagi organisasi NU dan warga nahdliyin. Sekaligus sebagai konsep dakwah NU kepada dunia, mengingat saat ini NU telah menjadi rujukan dunia untuk tema Islam.

Rapat penyusunan konsep Fiqih Organisasi digelar di Ponpes Al-Muayyad Windan Surakarta, Selasa hingga Rabu (17-18/11). Tim penyusun yang hadir dalam rapat ini adalah KH Ahmad Muadz Thohir, Kajen Pati, KH M Najib Hasan, Kudus, KH Dian Nafi Surakarta, KH Zaenal Arifin, Tuntang, Kabupaten Semarang, dan Gus Bisri Adeeb Chattanee, Leteh Rembang.

Koordinator Majma’ Buhuts An-Nahdliyah  KH Ahmad Muadz Thohir mengatakan, lembaga NU sangat besar dan umatnya sangat banyak.  Selama ini NU baru sukses menghimpun jamaah, namun belum berhasil mengorganisir umatnya secara baik. Maka agar umat bisa men-jamiyyah (well organized), perlu perangkat organisasi berupa pedoman baku yang dinamakan Fiqih Organisasi.

“NU perlu memiliki pedoman baku dalam mengorganisir jam’iyyah. Kami bahas konsep Fiqih Organisasi yang kami harapkan nanti mengisi kebutuhan itu,” tuturnya dalam rapat.

Lebih lanjut pengasuh Pondok Pesantren Raudhoh Ath-Thohiriyah Kajen Pati ini menjelaskan, NU telah menjadi sumber teladan umat. Organisai para ulama ini juga menjadi standar perilaku akhlakul karimah dan panutan hukum fiqih, baik oleh warganya sendiri maupun pihak luar, termasuk dunia internasional.

Oleh sebab itulah menurutnya, Jam’iyyah NU perlu menata diri sebaik-baiknya agar jangan sampai keliru. Baik dalam berbuat, berfatwa maupun sebagai penjaga Islam ahlussunnah wal jamaah.  Karena itu pula, Fiqih Organisasi harus menjadi pedoman baku seluruh pengurus NU dan semua unitnya di semua tingkatan kepengurusan.

“NU telah menjadi sumber teladan. Menjadi contoh dan rujukan dalam menjalankan Islam maupun dalam bernegara. Maka perlu punya pedoman baku yang kami bahas ini,” tutur adik kandung Rais Am PBNU alm KH Sahal Mahfud ini.

Ia menjelaskan, ada empat komponen dalam Fiqih Organisasi yang sedang ia bahas bersama tim. Yaitu Tarbiyah, Akhlak, Aqliyah, dan Perilaku Organisasi. Dibeberkannya, Tarbiyah meliputi Tarbiyah Ta’limiyah (pengajaran keilmuan), Tarbiyah Sulukiyah (Pendidikan Laku) dan Kaderisasi.

Adapun Akhlak, lanjutnya, meliputi pedoman sifat terpuji yang harus dimiliki. Yakni jujur, amanah  tidak tamak harta, tidak memburu tahta, ikhlas, menjaga keperwiraan (muru’ah), rendah hati (tawadlu’) dan menerima pemberian dari Allah (qana’ah).

Sedangkan di dalam Aqliyah ada aspek inovasi, kreativitas, tatsqif (pengembangan misi Aswaja), dan revitalisasi yang bermakna penguatan kembali masjid atau simpul umat. Juga aspek kemampuan peka membaca realita, cakap  menyusun program, dan  berkomitmen kuat terhadap visi, misi dan strategi organisasi.

“Jam’iyah NU sebagai alat perjuangan, maka perlu juga pedoman Perilaku Organisasi yang meliputi sikap mandiri, fokus kepada tujuan jam’iyah, kompetitif, dan teguh kepada garis perjuangan jam’iyah.

Ia katakan, pematangan Konsep Fiqih Organisasi akan dilaksakan dalam pertemuan besar di Pecatu, Bali, pada 11-13 Desember yang akan datang. Sebanyak 50 anggota Majma’ Buhuts An-Nahdliyah dan 100 kyai dari berbagai pesantren di Indonesia akan kami ajak mematangkan konsep tersebut. Direncanakan akan dihadiri oleh pengurus PBNU, Menteri Agama RI, dan sejumlah tokoh Islam.

Sekretaris Majma’ Buhuts An-Nahdliyah (MBN) Gus  Bisri Adib Chattane menambahkan, Fiqih Organisasi itu nantinya tidak sekedar untuk NU tapi bisa dipakai dan diterapkan ke semua organisasi Islam.

Diuraikannya, di dalam aspek Tarbiyah Ta’limiyah ada rincian ubudiyah, muamalah. Dalam aspek Tarbiyah Sulukiyah ada pedoman sikap sabar, istiqomah, syajaah (keberanian), disiplin. Sedangkan dalam aspek kaderisasi, dirancang ada sistem pelatihan yang bagus dan berjenjang serta terukur sejak masa rekrutmen.

“Sedikit mengabarkan, konsep Islam Nusantara dan peran internasional NU merupakan bahasan kami sejak MBN ini dibentuk oleh Kyai Sahal Mahfud dan Kyai Mustofa Bisri semasa beliau menjabat Rais Syuriyah PBNU. (ichwan/003)