SAMBUT HARI SANTRI, GP ANSOR GELAR DISKUSI PUBLIK

0
758
santri lakukan kirab untuk peringati hari santri. Foto: Alim

Pekalongan, nujateng.com- 22 Oktober 2015. Dalam rangka memperingati  Hari Santri Nasional (HSN) tanggal 22 Oktober 2015, PAC GP Ansor empat kecamatan yakni, Wonopringgo, Buaran, Kedungwuni dan Kajen menggelar diskusi publik dengan mengangkat tema “Menafsir Ulang Fatwa Resolusi Jihad 1945, Santri Cerdas Era Sosial Media”. Diskusi yang selenggarakan di Aula Kantor MWC NU Wonopringgo pada Rabu, 21 Oktober 2015 kemarin menghadirkan Pembicara antara lain M. Isbiq Syattho’, M.S.I (Ketua PAC Buaran), M. Azmi Fahmi, S.Ag. (PAC Kedungwuni) dan M. Syaikhul Alim, S.Ag.,M.S.I (Ketua PAC Kajen) dengan moderator M. Kafabihi, S.H.I (Ketua PAC Wonopringgo).

Diskusi yang dihadiri puluhan kader Gerakan Pemuda Ansor itu berlangsung cukup hangat meski dengan suasana yang tidak formal. Diskusi ini menjadi ajang Refleksi kader ansor yang memunculkan beberapa gagasan dan pemikiran antara lain: 1. Kader Ansor menyambut dengan baik penetapan Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 sebagai bentuk apresiasi Pemerintah terhadap jasa, peran, dan kontribusi santri terhadap bangsa dan negara. 2. Resolusi Jihad NU sebagai fakta sejarah yang selama ini diabaikan adalah momen yang amat penting dalam episode perjalanan sejarah Indonesia karena dari peristiwa inilah pecah pertempuran 10 Nopember yang monumental. 3. Penetapan Hari Santri Nasional di satu sisi patut disyukuri, namun di sisi lain membawa tanggung jawab yang tidak ringan yakni bagaimana setiap pribadi kita bisa menjiwai karakter santri sehingga mampu menjadi laku keseharian. Santri tidaklah bermakna hanya mereka yang pernah “mondok” di Pesantren.

Momentum Hari Santri semestinyajuga menjadi upaya afirmasi kalangan santri dan dunia pesantren yang selama ini nyaris tak tersentuh program pemerintah. 4. Resolusi Jihad NU perlu dimaknai dan ditarsirkan secara kontekstual. Sesuai dengan makna jihad itu sendiri sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu. GP Ansor semestinya lebih menunjukkan peran kontribusi dan keberpihakan terhadap kepentingan umum dan masyarakat. Ansor semestinya hadir menjawab kebutuhan sosial, bukan hanya sekedar kumpul-kumpul tak bermakna. Medan jihad bagi Ansor terbuka lebar. Persoalan ketidakadilan sosial ekonomi sampai dengan isu lingkungan perlu mendapatkan perhatian serius. [Alim dan Masbiq/003]