( حتى لا يطير الدخان ) That The Smoke May Not Blow Away

0
1092
Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng), KH Ubaidullah Shodaqoh. [Foto: Munif Bams]

Oleh: KH. Ubaidullah Shodaqoh

Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah

Malam Ied al-Adkha 1436 H, seorang santri yang telah 17 tahun tinggal di Jambi tiba di Semarang untuk menjenguk putri keduanya yang dititipkan di salah satu pondok pesantren. Dia merasa lega dan dapat menghirup udara dalam-dalam di Jawa setelah sebulan lebih tidak melihat matahari dan rasa gerah karena kepungan asap dari berbagai penjuru dan menyeluruh sampai dalam kamar tidur.

Asap yang dalam bahasa arabnya (دخان ) “dukhon” dalam termonologi Arab dan wahyu memang memiliki makna yang tidak menyenangkan sampai dalam mimpipun. Jikalah seseorang bermimpi dikepung asap maka akan terjadi fitnah, kesedihan dan duka. Dan dalam al-Qur’an dukhon disebut sebagai salah satu azab.

Karena dahsyatnya azab ini, salah satu surat al-Qur’an memperingatkan pada manusia dengan menamakan dukhon pada surat tersebut. Komunitas masyarakat yang pernah diperingatkan dengan dukhon ini adalah Kabilah (مضر ) mudlor. Ketika mereka menentang dan memfitnah Nabi Muhammad Saw, maka hujanpun tidak turun, terjadi kepahilan (قحط ) atau krisis pangan sehingga mereka mengkonsumsi tulang.  Asappun menyelimuti daerahnya.

Derita ini berakhir ketika salah seorang datang kepada Nabi Saw dan mohon untuk diturunkan hujan. Nabi  mendoakan dan turunlah hujan lebat. Tentu asap yang menimpa dalam kisah diatas berbeda dengan asap yang menyesakkan saudara-saudara kita di Jambi, Riau, Palembang, Kalimantan dan di tempat lainnya. Asap dalam kisah itu datang dari langit dan karena dosa berat seluruh komunitas mudlor, sedangkan asap yang terjadi saat ini datangnya kita ketahui dengan jelas, begitu juga sebabnya. Tentu juga karena dosa, tapi dosa segelintir konglomerat kapitalis dan penguasa lalim yang efeknya diderita oleh rakyat yang tidak berdosa dalam hal ini.

Kasihan dan amat kasihan. Untuk membayangkan derita saudara-saudara kita di daerah tersebut pun saya tidak kuat. Sementara para pengusaha pembakar lahan berpakansi ke alam pegunungan yang sejuk, tidur nyenyak di villa-villa dan hotel berbintang. Masyarakat yang dirampok lahannya harus menderita karena ulah segelintir orang yang rakus dan penguasa doyan sogok.

Kami saudara-sadara yang berada di Jawa pun tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong. Hanya do’a yang dapat kami panjatkan, semoga para penguasa sadar, konglomerat rakus binasa jika tidak mungkin bertobat, anak-anak yang tidak berdosa dapat menghirup udara segar dan bermain riang, orang-orang dapat mengais rizki di tanahnya sendiri.

Marilah kita rawat alam ini, hormati dan sayangi. Biarkan anak-anàk nyaman menyanyikan “Desaku Yang Kucinta” lagi. Kita harus bersama-sama berjuang keras. Para penguasa yang masih punya hati nurani, pemangku hak kelola lahan, masyarakat umum, harus segera berupaya sampai asap tak berterbangan mengepung dan membelenggu. Barangkali itulah illustrasi sebuah perjuangan dari kemelut, sebuah film yang dirilis di Kairo tahun 84 ‘khatta la yathiru al-dukhonu’, (hingga tidak lagi asap menyelimut).