Meski Beda Bahasa, Walisongo Paham Karakter Masyarakat Nusantara

0
678
Habis Novel saat memberikan ceramah dalam acara “Ansor Bersholawat” di Serengan Solo. Foto Ajie

 

Solo, nujateng.com– Proses penyebaran dakwah Islam di Nusantara, dilakukan oleh para Walisongo dengan cara pendekatan yang santun dan akomodatif. Menariknya, meski beberapa diantara mereka, ada yang berasal dari negara lain, namun mereka dapat memangkas perbedaan yang ada seperti persoalan bahasa dan lainnya.

“Walisongo ini bisa dengan cepat mengenali budaya lokal. Sebab apa? Mereka sering kumpul dengan masyarakat,” ungkap Penasihat Gerakan Pemuda Ansor Kota Surakarta, Habib Noval Alaidrus, saat memberikan ceramah pada acara “Ansor Bersholawat” di Serengan Solo, belum lama ini.

Saat berkumpul itulah, mereka kemudian menyampaikan ajaran Islam dengan penuh rasa tawadhu’ dan kesantunan. Lambat laun, dengan memperlihatkan akhlak yang demikian, masyarakat pun banyak yang menaruh simpati dengan ajaran Islam.

“Saya ingat Mbah Umar (Tumbu Pacitan) pernah berkata pada saya, alasan mengapa saat pendirian Negara Republik Indonesia, tidak dijadikan negara Islam. Indonesia dijadikan negara beragama, kata Mbah Umar, agar orang Islam di Indonesia bisa menunjukkan akhlaknya kepada orang non-muslim,” ujar Habib Noval.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Noval juga menyampaikan perlunya menyamakan frekuensi, agar dapat memahami kalamullah. Sembari memegang radio HT milik salah satu anggota Banser, ia memberikan permisalan kepada para jamaah.

“Seperti radio HT, kalau frekuensinya belum pas, maka saluran yang diinginkan tidak akan ketemu. Makanya, agar kita bisa mengerti dan nyambung dengan kalamullah, samakan dulu frekuensinya! Caranya bagaimana? Dengan membaca sholawat. Sebab barangsiapa membaca sholawat, Allah akan langsung membalas sholawatnya tersebut,” jelasnya. [Ajie Najmuddin/03]