Memperingati Hari Raya Kurban

0
953
KH. Muhammad Hanif Muslih

Oleh. KH. Muhammad Hanif Muslih*

 

Sebentar lagi, tepatnya mulai tanggal 10 Dzul Hijjah, bertepatan dengan hari besar Adhha atau lebih populer dengan sebutan hari Raya Kurban sampai terbenamnya akhir hari tasyriq bertepatan dengan tanggal 13 Dzul Hijjah, umat Islam yang mampu disunnahkan untuk menyembelih hewan untuk satu orang 1 ekor kambing.

Apalah arti seekor kambing yang berharga 2 juta-an dibanding pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang rela harus menyembelih putranya yang lama ditunggu-tunggu kelahirannya, ternyata setelah lahir harus dikurbankan sebagai persembahan pengabdiannya kepada Allah SWT, tentu tidak bisa dinilai dengan dollar ataupun Euro, apalagi rupiah.

Kita hanya diminta oleh Allah mengorbankan sebagian harta kita, yang bisa dihitung dengan jari tidak perlu menggunakan kalkulator, tapi kita masih memilih dan memilah, bukan kurban dengan harga yang paling mahal, tapi harga yang paling murah, orang sering beranekdot  uang Rp 10.000 untuk dimasukkaan ke kotak amal terasa banyak sekali, sedang uang Rp 100.000 untuk belanja ke Mall, terasa sangat sedikit sekali.

Bandingkan dengan pengorbanan Nabi Ibrahim AS. sungguh pengorbanan yang totalitas karena Allah SWT, dia hanya memikirkan karena semua ini adalah perintah Allah pasti akan membawa kebaikan yang sangat amat banyak, dia tidak memikirkan apa-apa, dia hanya minta persetujuan anaknya, apakah anaknya siap? Subhanallah, Ismail kecilpun tegar dan tegas menjawabnya; wahai Bapakku lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah, maka aku tergolong orang-orang yang sabar, begitu juga Siti Hajar tidak kalah dengan suami dan anaknya. Karena kepasrahan dan pengorbanan mereka yang total, artinya mereka semua ikhlas menerima dengan sepenuh hati perintah Allah tanpa reserve.

Masya Allah, Allahu Akbar, Subhanallah, ketika Nabi Ibrahim AS akan menggorokkan gaman(pedang)nya ke leher Ismail, spontan wujud Ismail diganti Allah sekejap dengan seekor kambing, Allah Maha Kuasa, Allah Maha Perkasa, Adil dan Bijaksana!.

Oleh karenanya mari kita yang mampu berkurban, tanpa reserve, ikhlas karena Allah SWT, Allah SWT pasti akan membalas dengan keikhlasan hamba-Nya dengan berlipat ganda. Amin.

*Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak