Plt Rais Am PBNU Beri Solusi Perselisihan Ahwa

0
719
Suasana di ruang Sidang Pleno I Muktamar NU 33 di Jombang Jawa Timur, Senin (3/8). [Foto: AR]

Jombang, nujateng.com- Sidang Pleno I Muktamar Nahdlatul Ulama ke 33 di Jombang Jawa Timur yang membahas tentang tata tertib pemilihan Rais Am dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya selesai pada pukul 15.00 WIB, Senin (3/8) setelah melewati dinamika perbedaan pendapat yang memang sudah lazim di kalangan ormas keislaman terbesar di Indonesia itu.

Sidang yang digelar di lapangan alun-alun Jombang itu, selesai setelah muktamirin (peserta muktamar) menyepakati solusi yang ditawarkan pelaksana tugas (Plt) Rais Am PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri dalam menyikapi perbedaan pendapat mengenai ditetapkannya Ahlul halli wal ‘aqdi (musyawarah mufakat) atau pemilihan langsung (voting) dalam memilih Rais Am PBNU periode 2015-2020.

Dalam sambutannya, kiai kharismatik yang akrab disapa Gus Mus itu menyampaikan, bahwa Muktamar NU ke 33 yang diadakan di tempat kelahirannya (Jombang Jawa Timur), harus bisa mendorong muktamirin untuk meneladani para pendiri NU seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri.

“Saya mengikuti sidang-sidang yang lalu, ada pemberitaan yang tercela. Saya malu kepada KH Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab, Mbah Bisri, yang telah mendirikan NU dengan ikhlas di tempat ini. Di tempat ini NU didirikan, jangan sampai di tempat ini pula NU mengalami perpecahan atau kehancuran, na’udzu billahi tsumma na’udzu billahi min dzalik,” tuturnya, Senin (3/8).

Gus Mus meminta kepada muktamirin supaya perbedaan pendapat yang terjadi dapat ditemukan solusinya dengan memposisikan Gus Mus sebagai Plt Rais Am yang menggantikan al-marhum KH MA Sahal Mahfudh.

“Saya pinjam telinga anda sekalian, mudah-mudahan ini (Plt Rais Am, red) jabatan terakhir saya. Saya rela mencium kaki-kaki anda sekalian, dengarkanlah saya, saya hanya meneruskan Mbah Sahal. Karenanya dengarkan saya sebagai Plt Rais Am,” pintanya.

Dalam suasana yang sangat hening itu, Gus Mus menyampaikan wasiat al-marhum KH MA Sahal Mahfudh dan kesepakatan para ulama sepuh, bahwa pemilihan Rais Am dilakukan dengan cara musyawarah mufakat.

“Tentang pemilihan rais am dipilih dengan cara musyawarah mufakat atau apabila anda tidak setuju maka menggunkan pemilihan, tapi karena ini pemilihan pemimpin kiai, maka yang memilih hanya rais-rais syuriah. Jika musyawarah disepakati, maka musyawarah. Jika tidak, maka menggunakan pemilihan langsung,” jelasnya.

Selain menawarkan solusi, Gus Mus juga bercerita bahwa posisinya sebagai Plt Rais Am karena dipaksa para kiai sepuh untuk menggantikan al-marhum KH MA Sahal Mahfudh. Karenanya Gus Mus berharap supaya jabatan yang sedang diembannya itu pada periode mendatang tidak ada lagi pada dirinya, yakni digantikan orang lain.

“Mudah-mudahan ini (Plt Rais Am) jabatan terakhir saya, jabatan yang tidak sengaja karena menggantikan Mbah Sahal, saya sebenarnya tidak mau, tapi saat itu dipaksa,” kenangnya. [AR/002]

Pidato Plt Rais Am PBNU KH A Mustofa Bisri dapat disimak dalam link di bawah ini: