Pidato Presiden Jokowi Dalam Pembukaan Muktamar NU Ke 33

0
840
Presiden Joko Widodo Foto: Istimewa

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirohim, alhamdulillahirobbil ‘alamin wassalatu wassalmu’ala asrofil anbyai wal mursalin sayyidina wahabibina wa syafiina wa maulana muhammadin wa ‘ala alaihi wa sohbihi ajmain. Amma ba’du.  

Yang saya hormati para alim ulama’

Yang saya hormati Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri, Presiden Republik Indonesia ke-5

Yang saya hormati Ibu Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wachid

Yang saya hormati para pimpinan lembaga Negara

Yang saya hormati ketua umum dan keluarga besar serta jajaran pengurus besar Nahdlatul Ulama

Para menteri Kabinet kerja

Yang saya hormati Gubernur Jawa Timur, Bupati Jombang beserta seluruh jajarannya

Hadirin Muktamirin Muktamirat yang berbahagia

Marilah kita bersyukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunianya kita dapat hadir pembukaan Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Kota Jombang, Jawa Timur, ini.

Shalawat dan salam kita haturkan untuk junjungan kita nabi besar Muhammad SAW beserta keluarganya para sahabat serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Para Kyai dan Hadirin sekalian yang saya muliakan

Dengan penuh rasa gembira, saya menyambut dimulainya Muktamar ke-33 jamiyyah Nahdlatul Ulama malam ini sebagai salah satu jamiyyah diniyyah Islamiyah terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama telah memberikan kontribusi besar untuk menjaga Indonesia dan tetap menjadi Indonesia. Sejarah mencatat, sejak didirikannya pada tahun 1926 tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama turut membidani lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjaga dari berbagai bentuk ancaman. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi jika Nahdlatul Ulama senantiasa menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI dan Pancasila. Dan ini, menjadi bukti keteguhan sikap Nahdlatul Ulama dalam menjunjung semangat kebangsaan, menjunjung semangat menegakkan keindonesiaan, menjunjung semangat menghargai kebhinekaan. Saya mengapresiasi tema besar yang dipilih Nahdlatul Ulama dalam muktamar kali ini yakni ‘Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’. Saya mendorong agar tema ini dimaknai secara positif karena tema ini menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama dan umat Islam Indonesia memiliki posisi yang setrategis bukan hanya dalam membentuk peradaban bangsa, tetapi bisa menjadi inspirasi peradaban dunia.

Sebagai role model pengusung Islam yang rahmatan lil ‘alamin yang memberikan kedamaian dan manfaat bagi alam semesta, tema itu juga cermin keteguhan warga nahdliyin untuk menjadikan Islam sebagai pijakan terciptanya masyarakat unggulan. Yakni, masyarakat yang menjadikan agama sebagai sumber kemajuan, sebagai sumber keadilan, dan sebagai sumber kedamaian. Nahdlatul ulama memiliki peran yang sangat penting dalam menampilkan serta meneguhkan wajah Islam yang moderat. Untuk itu, kita mengucapkan terima kasih kepada Hadratus Syaik KH Hasyim Asy’ari yang telah menanamkan benih unggul sikap moderat bagi warga Nahdliyin di mana pun berada.

Muktamirin Muktamirat Yang Saya Hormati

Senin lalu (27/7), saya menerima kunjungan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, di Istana Negara Jakarta. Dalam kunjungannya itu beliau tertarik mempelajari sejarah perkembangan Islam di Negara kita, Islam yang demokratis, Islam yang toleran, dan Islam yang maju. Beliau bahkan ingin mengetahui lebih banyak mengenai peran organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia dalam menghadapi tantangan radikalisme global. Beliau bertanya sangat detail sekali, Nahdlatul Ulama ditanyakan, Muhammadiyah juga ditanyakan secara detail sehingga penjelasannya pun kita sampaikan secara detail. Beliau sangat menghargai apa yang terjadi di Indonesia karena di luar Indonesia semuanya sekarang ini pada posisi yang tidak baik. Karena itulah saya menaruh harapan pada Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk mampu menjadi jembatan peradaban bukan hanya jembatan bagi perbedaan faham keagamaan, tetapi juga menjadi peradaban antar bangsa dalam wujud nyata Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Sebagai jamiyyah diniyyah Islamiyyah yang sejak kelahirannya mengedepankan nilai-nilai Islam moderat, saya berharap Nahdlatul Ulama dapat meningkatkan kerja sama dengan berbagai kalangan untuk membangun tatanan dunia yang berkeadilan. Khususnya, dalam mengentaskan kemiskinan, keterbelakangan, dan ketimpangan yang merupakan akar dari bentuk-bentuk terorisme dan radikalisme. Dengan sikap Nahdlatul Ulama yang mengutamakan solidaritas kemanusiaan, ukuwah basyariyah, maka warga Nahdliyin berperan besar dalam membangun peradaban antar bangsa yang semakin terbuka, demokratis dan berkeadilan. Dengan cara itu Indonesia sebagai negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia akan selalu dikenang menjadi rujukan dunia.

Para Ulama dan Hadirin Sekalian Yang Saya Hormati

Sebelum mengakhiri sambutan ini, ijinkan saya atas nama Negara dan pemerintah menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap keluarga besar Nahdlatul Ulama atas peran besar dalam menjaga keindonesiaan dan kebhinekaan. Kejadian rusuh di Tolikara, Papua, pada saat Idul Fitri 1 Syawal 1436 Hijriyah harus menjadi pelajaran berharga, harus menjadi koreksi bagi kita untuk senantiasa membangun komunikasi yang baik antar umat beragama. Toleransi yang telah dibangun sejak lama di seluruh Nusantara tidak boleh ternodai karena sikap segelintir orang. Mari kita teguhkan posisi Nahdlatul Ulama sebagai jamiyyah diniyyah Islamiyyah yang moderat, mari kita tingkatkan dialog, sikap toleran, dan komunikasi yang baik dalam kehidupan keagamaan, dengan karakter Nahdlatul Ulama yang sering menggiatkan semangat toleransi, kebersamaan dan musyawarah untuk mufakat, saya berkeyakinan bahwa Muktamar ini akan berjalan dengan lancar, damai, sejuk dan sukses.

Dan sebagai sedikit tambahan, sejak saya menjadi presiden gelar pahlawan nasional pertama kali akan saya anugerahkan kepada tokoh NU dari Jombang yaitu KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Demikian yang bisa saya sampaikan terima kasih. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh.