Menag Paparkan Definisi Islam Nusantara

0
739
[Foto: AS]

Jombang, nujateng.com- KH Ahmad Shidiq pernah bercerita, dulu umat Islam belasan tahun menjalankan pancasila tanpa mempertanyakan dasar agamanya, lalu ada sebagian orang mempertanyakan apakah pancasila itu barang halal atau haram. Karena ada pertanyaan itu, kiai-kiai NU memberikan dasar keagamaan dan menyatakan bahwa Pancasila itu sudah final.

Hal itu disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam menganalogikan isu Islam Nusantara yang belakangan dipertanyakan oleh sebagian umat Islam perihal dasarnya dalam al-Quran dan hadis.

“Islam Nusantara adalah nilai-nilai Islam yang dipraktikkan di Nusantara. Islam Nusantara sudah lama kita praktikkan, lalu ada orang mempertanyakan dasarnya. Ini seperti yang dihadapi KH Ahmad Shidiq dulu,” paparnya dalam Seminar Nasional Islam Nusantara dengan tema ‘Mengarusutamakan Konsep dan Gerakan Islam Nusantara’ yang diselenggarakan Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta bekerjasama dengan Kementerian Agama RI di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, Minggu (2/8).

Bagi putra tokoh NU al-marhum KH Saifuddin Zuhri, Islam Nusantara adalah praktik keislaman di Nusantara yang sebenarnya sudah dipahami dan dipraktikkan oleh umat Islam sejak Islam ada di Nusantara. Karenanya, definisi dan dasar keagamaan atas istilah tersebut tak perlu ditanyakan lagi, yakni sudah sangat jelas. Namun karena belakangan ada sebagian orang yang mempertanyakannya, maka para pakar ilmu-ilmu keislaman punya tanggungjawab untuk menjelaskannya.

“Ada distorsi di masyarakat kita, bahwa seakan-akan Islam Nusantara tidak ada dasarnya dalam beragama. Jadi kita perlu meminimalisir atau menghilangkan sama sekali distorsi atau penyimpangan itu. Orang-orang yang fasih berbicara Islam Nusantara perlu berbicara kepada masyarakat luas. Ini sebagaimana pancasila yang kemudian dijelaskan oleh Kiai Ahmad Shidiq yang kemudian pancasila difinalkan oleh NU,” jelasnya.

Seminar yang digelar dalam rangka memeriahkan kegiatan Muktamar NU ke 33 di Jombang Jawa Timur itu, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang menghadiri acara Muktamar. Ratusan kursi yang disediakan panitia habis hingga peserta seminar rela berdesak-desakkan dan berdiri.

Hadir sebagai pembicara lainnya, Prof Dr H M Isom Yusqi, KH Afifuddin Muhajir, Prof Akh Muzakki, dan Dr Al-Zastrow Ng. [AR/002]