Menag: Menjelaskan Islam Nusantara Harus Santun dan Rendah Hati

0
543
[Foto: AS]

Jombang, nujateng.com- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, mempertanyakan keabsahan Islam Nusantara sama dengan mempertanyakan dasar Pancasila di dalam Islam, yakni sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. Namun, karena ada yang bertanya maka harus dijawab.

“Orang-orang yang fasih berbicara Islam Nusantara perlu berbicara kepada masyarakat luas,” pintanya dalam Seminar Nasional Islam Nusantara dengan tema ‘Mengarusutamakan Konsep dan Gerakan Islam Nusantara’ yang diselenggarakan Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta bekerjasama dengan Kementerian Agama RI di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, Minggu (2/8).

Lebih jauh, putra dari mantan Menag al-marhum KH Saifuddin Zuhri itu berpesan, dalam menjelaskan Islam Nusantara harus tetap menjaga sopan santun sebagaimana ajaran Islam Nusantara sendiri.

“Cara kita menjelaskan tentang Islam Nusantara harus dengan segenap kerendah hatian, sopan santun, beretika, berakhlaqul karimah. Untuk mengatakan diri kita baik, tidak harus memburukkan pihak lain. Jadi harus santun menyebarkannya, karena memang ciri khas Islam Nusantara menurut saya adalah sopan santun, sehingga lebih cepat mendapatkan simpati,” jelasnya.

Contoh Menyampaikan Islam Nusantara

Sopan santun dan rendah hati dalam menyampaikan Islam Nusantara, Menag mencontohkan tentang penghormatan Islam Nusantara terhadap perempuan. Walaupun Islam Nusantara kenyataannya lebih menghormati perempuan daripada Saudi Arabia, namun dalam menyampaikannya tidak boleh dengan pernyataan seperti itu, atau dengan mengatakan Islam Nusantara lebih baik daripada Islam Saudi Arabia.

“Di Saudi perempuan tidak boleh menyetir mobil, sementara di Indonesia boleh. Dalam menyampaikan, kita tidak perlu jumawa (sombong, red) dengan menyampaikan Islam kita lebih menghormati perempuan daripada Islam Saudi. Saudi melarang perempuan menyetir juga sebagai bentuk penghormatan, hanya dalam bentuk lain. Yakni karena latar historis dan kondisinya berbeda, sehingga berbeda, tapi maksud sama. Di Indonesia perempuan boleh menjadi hakim. Bahkan ketika mengambil keputusan, suara hakim perempuan sama dengan suara hakim laki-laki. Jadi, penghormatan terhadap perempuan memiliki bentuk yang berbeda,” paparnya.

Bagi Menag, perbedaan situasi dan kondisi masing-masing negara seperti antara Saudi Arabia dan Indonesia itu, maka menyampaikan Islam Nusantara harus dengan sikap rendah hati dan sopan santun.

“Jadi, saya ingin menggarisbawahi bahwa kerendah hatian sangat penting dalam menyampaikan Islam Nusantara,” pesannya. [AR/002]