Martin: Gus Dur Membuat Orang NU Lebih Percaya Diri

0
897
Martin van Bruinessen (kiri) memberikan penjelasan tentang kontribusi Gus Dur bagi NU, Pesantren dan Islam Indonesia. [Foto: Ubed]

Jombang, nujateng.com- Martin van Bruinessen, peneliti Nahdlatul Ulama asal Belanda mengatakan, salah satu jasa besar KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah mengenalkan pesantren dengan dunia luar. Hal itu disampaikannya pada diskusi di sela-sela pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama di Jombang, Selasa (4/8).

Penulis buku NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana Baru itu mengutarakan jika dalam sejarah NU, setidaknya bisa kita bagi dalam tiga tahapan. “Pra Gus Dur, Era Gus Dur, dan Pasca Gus Dur,” kata Martin. Pada masa pra Gus Dur, tidak ada peneliti asing tentang NU, kecuali Ken Ward, seorang Australia.

Setelah Ward, peneliti asing yang mengkaji dan masuk ke dalam lingkungan pesantren banyak terlihat pada masa Gus Dur. Mitsuo Nakamura, kata Martin, pernah diajak Gus Dur melihat muktamar di Semarang pada tahun 1979. “Itu muktamar pertama dimana peneliti asing mencermatinya,” tutur Martin menjelaskan kehadiran peneliti Jepang pada perhelatan Muktamar Semarang.

Perkenalan Martin sendiri dengan Gus Dur terjadi saat ia bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI. Ia yang kemudian mendapatkan rekomendasi dari Gus Dur untuk bisa masuk ke banyak pesantren.

Di maasa-masa tahun 1980an, Gus Dur banyak dilibatkan dalam pembangunan masyarakat melalui pesantren. Aktivis mulai masuk pesantren dan ikut berkontribusi dalam penguatan institusi pendidikan Islam tradisional tersebut.

“Gus Dur lah yang membuka pesantren untuk orang asing bisa masuk ke dalam. Lebih penting lagi, orang pesantren mulai berkenalan dngan dunia luar. Ini peranan penting dari GD. Ia buka jendela NU dan pesantren. Ini membuat NU menjadi bagian dari masyarakat modern. Ada interaksi disana,” urai Martin.

Sebagai seorang manajer, Martin mengakui, mungkin Gus Dur tidak terlalu efisien, tetapi di eranya, Gus Dur banyak berhubungan dengan dunia luar baik dengan komunitas agama lain di Indonesia, maupun di luar negeri.

Padahal, NU dari sisi historisnya didirikan dengan sangat defensif. Ada ancaman transnasional, gerakan pemurnian Islam mengancam NU. “Jadi di awal berdirinya, NU itu melihat dunia luar sebagai ancaman. Dulu sangant takut dengan dunia luar. Ada perasaan terancam,” Martin menjelaskan. Pada masa Gus Dur, NU mulai lebih percaya diri. Ini faktor penting yang dibuat Gus Dur. Ia menjadi jembatan agar warga NU berkenalan dengan dunia di luar NU sekaligus menarik minat orang lain untuk mempelajari NU lebih jauh. [TKh/001]