Lukman Hakim Saefudin: Islam Nusantara adalah Nilai Islam di Bumi Nusantara

0
797
Menteri Agama seusai membuka seminar nasional Islam Nusantara. [Foto: Salam]

Jombang, nujateng.com Munculnya kata Islam Nusantara menjadi moncer di kalangan masyarakat ketika digunakan menjadi tema muktamar NU ke-33 di Jombang, “Meneguhkan Islam Nusantara bagi Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Istilah itu tidak lepas dari pro dan kontra, meskipun kendatinya hal tersebut sudah ada sejak lama. Menanggapi pro dan kontra dikalangan masyarakat, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin angkat bicara terkait hal itu.

“Islam nusantara adalah nilai-nilai Islam yang diterapkan di nusantara dan tinggal di bumi nusantara oleh nusantara dan boleh jadi tidak sama di negara lain, karena ada muhakamah (tradisi) kegiatan itu menjadi hukum,”jelasnya saat ditemui usai membuk seminar, kemarin.

Lukman menambahkan, tradisi diberbagai tempat itu berbeda-beda sehingga dalam menerapkan hukum bisa jadi tidak sama (berbeda) dan boleh jadi yang tidak sama itu lebih baik dari yang lain, karena perbedaan itu muncul dikondisi masing-masing wilayah atau daerah itu berbeda-beda yang merupakan suatu keberkahan.

“Tujuan Islam nusantara dan Islam kemajuan pada hakekatnya sama yaitu ingin bagaimana nilai-nilai islam itu bisa diterapkan di Indonesia dengan sebaik-baiknya,”tegas  putra mantan Menteri Agama, Saefudin Zuhri.

Sementara itu, budayawan sekaligus pengasuh gamelan Ciganjur, Sastro Ngatawi, menafsirkan Islam Nusantara itu laku hidup yang dilakukannya dengan cara “ngamen”, sehingga islam nusantara melakukan budaya (wisdom). Di nusantara ini menggunakan budaya/kebijakan. Yang membedakan arab dan nusantara ini adalah keindahan, di Arab secara fisik susah mencari keindahan, semangatnya merusak untuk mencari keindahan, berbeda dengan nusantara.

“Dengan Ngamen saya mengenalkan Islam Nusantara. Tuhan ingin menunjukan kreativitas yang ada di Indonesia,”jelasnya dalam sesi terakhir di seminar nasional Islam Nusantara. [AS/003]