Kiat Kiai Umar Hadapi Santri Nakal

0
961
Kiai Umar, Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta. [Foto: Ajie Najmuddin]

Surakarta, nujateng.com- Meski berada di pesantren, sebuah lembaga yang mengajarkan akhlak serta ilmu agama, tetapi ada saja label “santri nakal” yang dilekatkan pada beberapa santri.

Kenakalannya pun bertaraf, dari hanya sekedar meng-ghosob (meminjam
tanpa izin) sandal teman, membolos saat jam ngaji sampai melakukan
kenakalan lain yang dapat mengakibatkan si santri dapat sanksi berupa
kepala plontos atau bahkan dikeluarkan.

Tak terkecuali dengan al-marhum Kiai Umar, pun memiliki beberapa
“santri nakal”. Untuk memantau perkembangan kenakalannya, maka sang
kiai menugaskan seorang pengurus pondok untuk mencatat catatan
kenakalannya.

Semakin lama, catatan yang dikumpulkan pengurus sudah lumayan banyak.
Bahkan terkadang, saat memergoki langsung kenakalan santri, ia ingin
bertindak langsung. Namun, untungnya ia masih ingat dhawuh sang kiai
untuk mencatatnya secara diam-diam.

Hingga, suatu hari Kiai Umar memanggil pengurus tersebut. Dalam hati,
betapa girangnya sang pengurus membayangkan hasil pekerjaannya selama
ini, bakal menjadi dasar pertimbangan Kiai Umar untuk menghukum para
santri nakal.

Namun, beberapa hari setelah penyerahan “daftar hitam” tersebut, para santri nakal tak kunjung jua dipanggil atau bahkan dihukum. Karena penasaran, pada sebuah kesempatan, ia kemudian memberanikan diri untuk
bertanya kepada sang kiai.

“Pangapunten mbah kiai, para santri yang kemarin sudah dicatat kenapa
tidak diberi hukuman?” tanya dia dengan sedikit terbata-bata dan suara
yang lirih.

“Sudah aku tindak lanjuti kok,” jawab kiai, singkat.

Santri hanya diam. Masih bingung dengan jawaban sang kiai. “Daftar itu bukan untuk menghukum mereka. Justru, para santri nakal itu, tiap malam aku doakan mereka, agar hilang kenakalannya dan mereka dapat menjadi orang yang bermanfaat untuk lingkungannya,” jawab kiai.

Kisah bijak di atas diceritakan oleh KH A Mustofa Bisri pada saat mengisi ceramah dalam acara Haul Kiai Umar, Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, beberapa tahun lalu. [Ajie Najmuddin/002]