Imbangi Kelompok Intoleran, Sebarkan Islam Nusantara

0
590
[Foto: Abdus Salam]

Jombang, nujateng.com- Dulu ada ulama Thailand berkunjung ke kita, mereka bercerita bahwa di Thailand Selatan ada ulama-ulama muda yang sudah tidak mentradisikan lagi peninggalan-peninggalan orang tua. Selain itu banyak gerakan-gerakan internasional yang masuk ke Thailand yang menghilangkan tradisi-tradisi itu. Nah, negara kita sama seperti di Thailand. Kita mengalami kegelisahan yang sama dengan Thailand.

Banyaknya gerakan-gerakan keislaman internasional yang menghilangkan tradisi dan mengkafirkan para pendiri bangsa Indonesia ini, mendorong STAINU membuka program pascasarjana Islam Nusantara.

Hal itu disampaikan Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta Prof Dr H M Isom Yusqi ketika menjelaskan latar belakang didirikannya Pascasarjana Islam Nusantara di STAINU Jakarta.

“Di Syiria dan wilayah Arab lain, sama-sama baca Allahu Akbar tapi tembak-tembakan. Jadi sudah tidak membanggakan lagi. Islam sebagai agama yang mencerahkan sudah tidak ada di sana. Di sini banyak kelompok-kelompok yang mengatakan pancasila itu thoghut, para pendiri bangsa dikafir-kafirkan. Lah kalau para orangtua itu dikafirkan, maka kita produk kafir. Itu yang mendorong STAINU membuka program Pascasarjana Islam Nusantara,” paparnya dalam Seminar Nasional Islam Nusantara dengan tema ‘Mengarusutamakan Konsep dan Gerakan Islam Nusantara’ yang diselenggarakan Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta bekerjasama dengan Kementerian Agama RI di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, Minggu (2/8).

Dalam seminar yang dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin itu, Prof Isom memaparkan, bahwa Islam di Indonesia memiliki keunikannya sendiri.

“Cara cepat membaca al-Quran, mulai dari iqra’, qira`ati, itu hanya ada di Indonesia. Itu sangat kreatif. Cara cepat baca kitab kuning juga sama. Ini hasil kreasi di Indonesia. Harus terus dipelihara,” jelasnya.

Karenanya, menurut guru besar yang banyak menulis tentang Islam Nusantara itu, berdasarkan latar belakang banyaknya kelompok intoleran dan takfiri (mudah mengkafirkan kelompok yang tidak sepaham, red) yang ada di Indonesia, serta sebagai upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan tradisi keislaman yang ada di Indonesia, Islam Nusantara harus disebarluaskan dengan membuka program Pascasarjana Islam Nusantara.

“Berdasarkan itu, STAINU buka pasca, ingin mengembangkannya. Tashrif (ilmu sharaf, red) fa’ala yaf’ulu fa’lan itu hanya ada di Nusantara. Ini semua harus dipertahankan demi kemajuan budaya dan peradaban. Kita punya strategi, jangan sampai budaya-budaya luar mewarnai budaya kita,” tandasnya. [AR/002]