Berkah Muktamar NU Bagi Tukang Becak

0
751
Peserta Muktamar NU ke 33 asal Jawa Tengah, Sumanto Al-Qurtuby (kiri) dan Muhtasid (kanan). [Foto: Ceprudin]

Jombang, nujateng.com Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 33 di Jombang Jawa Timur betul-betul membawa berkah bagi warga sekitar. Salah satunya bagi ratusan tukang becak yang berkumpul di pangkalan-pangkalan sekitar area alun-alun Jombang.

Mad Kosim (55) salah satu dari ratusan tukang becak yang merasakan berkahnya. Pria dua anak ini mengaku mengalami peningkatan penghasilan dua kali lipat dari hari-hari biasanya. Bahkan ia sempat mengalami peningkatan tiga kali lipat.

“Selama tiga hari ini (Sabtu, Minggu dan Senin) saya minimal mendapat Rp 100 ribu. Ya antara 100-200 ribu perhari,” kata Mad Kosim saat ditemui nujateng.com di pangkalan becak dekat alun-alun Jombang, Selasa (4/8/15).

Saat ditanya penghasilan keseharian, pria asli kelahiran Jombang ini mengaku selalu pas-pasan. Bahkan, katanya, dalam sehari ketika tidak beruntung sama sekali tidak ada penumpang.

“Sehari-hari saya biasanya paling banyak mendapat penghasilan Rp 40-50 ribu perhari. Bahkan pernah dalam satu hari sama sekali tidak ada penumpang. Sangat terasa mas (adanya muktamar) dengan hasil narik saya,” tambahnya.

Mad Kosim sendiri, sudah 30 tahun menjadi tukang becak. Ia menggeluti pekerjaan narik becak sejak masih dikayuh. Tiga tahun lalu, ia kemudian merubah becaknya menjadi becak motor alias bentor.

Ketika ditanya hari apa yang paling beruntung selama adanya muktamar itu. Mad Kosim mengaku hari pertamalah yang paling menguntungkan baginya.

“Ketika hari pertama (pembukaan muktamar) yang paling menguntungkan. Hari itu saya modal bensin Rp 30 ribu. Kemudian saya mendapat hasil narik sebanyak Rp 180 ribu. Hasil ini bagi saya sangat luar biasa. Karena sejak dulu, baru kali ini sehari mendapat hasil sebanyak itu,” terangnya.

Bukan hanya tukang becak yang mengaku mendapat berkah dengan adanya muktamar ini. Warga sekitar alun-alun Jombang juga banyak yang mendadak ketiban rizki. Rumah warga sekitar, banyak disewakan menjadi posko-posko muktamirin (peserta muktamar laki-laki, red) dan muktamirat (peserta mukatamar perempuan, red).

“Rombongan kami menyewa rumah selama lima hari sebesar Rp 20 Juta. Tapi itu rumah yang lumayan besar dan fasilitasnya memadai. Banyak juga yang menyewa rumah warga dengan gratis. Karena ada kenalan dan kadang pemilik rumah enggan diberi uang,” kata M Zarkoni, peserta muktamar asal Pati Jawa Tengah. [CP/002]