Pesantren Al-Muayyad Windan Ajarkan Santri Jadi Juru Damai

0
2171
[Foto: Ajie Najmudin]

Solo, nujateng.com- Al-Muayyad, mendengar nama tersebut khalayak pasti akan tertuju pada sebuah pondok pesantren di daerah Mangkuyudan Surakarta. Namun, sesungguhnya ada Al-Muayyad lain di luar Mangkuyudan yang sama-sama dikenal masyarakat. Pesantren tersebut dikenal sebagai Al-Muayyad Windan.

Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan yang berlokasi di Dukuh Windan RT 02 RW 08 Desa Makamhaji Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, sejak didirikan 15 Oktober 1996 lalu, kini menjadi tempat rujukan bagi kalangan mahasiswa untuk menimba ilmu agama Islam.

“Pondok ini berawal dari Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan yang didirikan kakek saya, KH Abdul Mannan tahun 1930. Dalam perkembangannya para sesepuh merasa perlu membuat pesantren lanjutan khusus untuk para mahasiswa,” kata Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan, KH Mohammad Dian Nafi’, saat ditemui beberapa waktu lalu (16/7).

Tercatat dalam waktu 18 tahun hingga sekarang, dari awal santri yang berjumlah hanya 7 orang, kini alumninya hampir seribuan. Mereka para mahasiswa yang berasal dari beberapa pulau di tanah air.

“Saat ini, santri mukim yang tinggal di asrama pondok sebanyak 56 orang. Sedang yang non-mukim atau santri kalong sebanyak 119 orang,” terang dia.

Dijelaskan pria yang akrab disapa Gus Dian itu, selain mengaji ilmu agama para santri juga dibekali dengan berbagai skill, antara lain jurnalistik, penyiaran, pengembangan masyarakat dan pertanian.

“Semisal yang terkait dengan pengembangan untuk mengasah keterampilan di bidang penyiaran radio, kami mengelola Radio Gesma FM. Melalui radio ini mereka dapat mengaktualisasikan hasil ngaji-nya di pondok ke dalam produksi siaran dan pengembangan program,” papar Gus Dian yang kini juga mengemban amanah sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah.

Kajian tentang ihyâ’ul mawat (penyuburan lahan terlantar) dalam kitab fiqh diwujudkan dengan membuat rombongan belajar bernama Santri Sahabat Bumi pada 2014. Sesi 1 berlangsung di pondok. Sesi 2-3 berlangsung di Kopeng Kabupaten Semarang dan sesi 4 adalah membantu petani memasarkan produk sayuran organik ke super market.

Gagasan ini dipicu oleh kenyataan banyaknya lahan luas yang belum tergarap optimal di daerah asal santri di luar Jawa. “Ironis, lahan kami luas, tetapi produk sayuran segar dan beras harus kami datangkan dari Jawa,” aku Saifullah, santri asal Lampung yang dipercaya rekan-rekannya menjadi koodinator Santri Sahabat Bumi (SSB).

SSB ini kemudian juga belajar perihal pelestarian lingkungan hidup secara cerdas, yaitu melekatkan ikhitar ekonomi dengan konservasi.

Juru Damai

Sebagai seorang yang dikenal sebagai tokoh perdamaian, Gus Dian juga mengajak para santrinya untuk menjadi garda terdepan dalam membangun perdamaian sesuai dengan misi Islam sebagai pembangun perdamaian.
Santri perlu belajar banyak dari banyak sumber, termasuk masyarakat, agar dapat menjadi pendamping yang baik.

“Santri harus menjadi pribadi yang mendamaikan. Jangka pendeknya dapat melerai pertikaian, jangka menengah memulihkan hubungan, dan jangka panjangnya ikut dalam upaya membangun relasi yang adil,” tutur Kiai Dian yang pernah bergelut bersama Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara dan sempat hadir dalam beberapa konferensi perdamaian di beberapa negara ini.

Penanaman nilai ini, diakui para santri menjadi bekal penting ketika mereka ditugaskan menjadi relawan, baik ketika menghadapi persoalan konflik langsung atau tidak langsung, maupun ketika ikut menolong survivor bencana alam.

“Kadang kita pikir, ketika ada musibah, kita hanya bantu dengan materi. Padahal, kita juga bisa ikut membantu dengan pendampingan psikososial untuk penyembuhan trauma agar survivor lebih cepat pulih berdaya,” terang salah satu santri alumni, Ade Irman, belum lama ini.

Untuk itulah, Pesantren Al-Muayyad Windan kemudian juga membentuk sebuah lembaga yang bernama Amwiner (Al-Muayyad Windan Emergency Response), sebuah wahana pembelajaran manajemen penanggulangan bencana.

Melalui Amwiner ini pula, para santri Windan dimampukan untuk menjadi relawan dan konselor (pendamping) saat terjadi bencana alam di berbagai daerah di Indonesia, dimulai dari dampak kerusuhan Sampit pada tahun 2001.

“Beberapa kali kami mengirim para santri terlatih mendampingi survivor bencana, misalnya di Madura, Aceh, Yogyakarta, Klaten, Pangandaran, Padang dan Sragen. Dalam pelaksanaannya, kami bekerjasama dengan berbagai pihak,” terang suami Murtafiah Mubarokah itu.

Siapa Saya?

Santri yang belajar di Jurusan Tarbiyah, Kependidikan dan Psikologi dapat mengembangkan bakatnya melalui Raudhatul Athfal (RA) Al-Muayyad Windan yang didirikan pada 2005, disusul dengan RA serupa di kompleks baru yang dikelolanya di Widororejo, sebelah timur laut kompleks Windan. Basis kompetensi Al-Quran melalui pembelajaran multisensori
menjadi ciri khasnya.

Gus Dian yang menantu KHM Salman Dahlawi ini tak menyangka pesantren mahasiswa yang dirintisnya itu mendapatkan respons yang baik. “Ada saja yang belajar di sini, ya mahasiswa, anak-anak, ibu-ibu, pegiat LSM dan wartawan. Ada juga dosen dari dalam dan luar negeri
menyempatkan diri untuk tinggal beberapa hari berbagi pengetahuan atau suka rela menjadi native speaker untuk mata pelajaran Bahasa Inggris di sini,” kata Gus Dian.

Yang khas, dalam tiga tahun pertama para santri akan menjawab tiga pertanyaan pokok. Pertama, menjawab pertanyaan, siapa saya? Kedua, menjawab siapa diri ini bersama orang lain. Kemudian yang ketiga, siapa diri ini untuk orang lain.

Setiap level perlu dijawab oleh santri dalam waktu satu tahun lamanya. Santri harus menemukan siapa jati diri yang sesungguhnya itu. “Dengan itu Al-Muayyad Windan meneruskan tradisi tua pesantren nusantara, yaitu dalil agama diupayakan menubuh ke dalam pengamalan para santri, kemudian dikaitkan dengan pengalaman pendampingan masyarakat agar mereka dapat hidup bermartabat di ruang publik,” pungkas Kiai Dian. [Ajie Najmuddin/002]