“Kumpul Balung Pisah” Perekat Warga Nahdliyin

0
916
Sambutan: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sambutan pada “Silaturahmi Ngumpulke Balung Pisah” tahun 2015 di Kampus IV Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima, Jalan Arteri Utara Semarang Minggu, (26/7/15). [Foto: CP]

Semarang, nujateng.com Pada Minggu (26/7/15) ribuan warga nahdliyin berkumpul di lokasi Kampus IV Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima, Jalan Arteri Utara Semarang.

Ratusan alim ulama serta kiai pondok pesantren NU se-Jateng berkumpul dalam acara “Silaturahmi Ngumpulke Balung Pisah” tahun 2015.

“Acara ini rutin dilakukan setiap tahun. Silaturahmi ‘Ngumpulke Balung Pisah’ merupakan istilah khas NU Jawa Tengah yang diberi nama oleh almaghfurlah KH Achmad Abdul Hamid dari Kendal,” jelas Ketua panitia forum silaturahmi dan halal bi halal dan kumpul balung pisah,” KH Ahmad Darodji.

Sebagai penceramah, hadir kiai sepuh Jateng KH Maemun Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid (Gus Solah). Hadir pula kiai-kiai sepuh di Jateng, Kiai Wildan dari Kendal, Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh. Hadir pula Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Dari jajaran akademisi hadir Rektor UIN Semarang Prof Muhibbin, Rektor Undip Prof Yos Johan Utama, Rektor Unisula Prof Anis Malik Thoha, Rektor Udinus Dr Ir Edi Noersasongko, dan Rektor Unwahas Prof Noor Achmad serta perwakilan bupati dan wakil bupati se-Jateng.

“Warga NU itu punya perekat, yaitu shalawatan, yasinan, berjanjen, tahlilan, nariyahan, manaqiban, haul, serta mauludan. Karena warga NU yang berserakan ada dimana-mana itu disatukan supaya kuat. Ada yang di birokrasi, tentara, polisi, pengusaha, dan tidak sedikit yang jadi politisi, itu kita rekatkan dengan kumpul balung pisah,” tukasnya.

Sarana Berdialog

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam sambutannya mengaku senang dengan adanya pertemuan silaturahmi kumpul balung pisah. Dengan silaturahmi, katanya, bisa mepertemukan setiap orang dan saling memberi kabar. Dengan begitu, berita bisa tersampaikan dengan baik.

”Kemarin ada persoalan intoleransi. Saya mendapat masukan banyak dari tokoh agama. Pertemuan antara ormas-ormas dengan ormas. Maka sebagai pemerintah kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk berdialog. Ngumpulke balung pisah ini bisa menjadi sarana untuk mencari solusi itu,” papar Gubernur.

Hematnya, banyak persoalan yang bisa diselesaikan dengan dialog dan silaturahmi. ”Misalnya ngurus rumah ibadah, bagaimana ngurus sekolahan. Nasima ini sekolah yang bagus. Ngumpulke balung pisah ini saya tiru juga di rumah dengan nama lain ’open house’. Nah ada seorang PNS yang datang hanya pengin salaman. Nah, jika dengan bersalaman bisa membuat hati orang sejuk, hati kita damai, mari kita bersalaman,” tandasnya. [CP/002]