Ketua PWNU: Keberagaman Harus Diterima

0
786
KH. Abu Hapsin, Ph.D [Foto: Ceprudin]

Semarang, nujateng.com- Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D mengutarakan, belajar agama syaratnya adalah pembimbing. Karena itu, barang siapa yang belajar agama tanpa guru, maka ia sedang belajar pada setan. Padahal, agama lebih berbahaya dibanding dengan pedang.

“Kalau anda belajar agama tanpa guru, artinya sedang belajar sama setan. Padahal, agama itu ibarat pedang, bahkan lebih tajam dari pedang,” katanya, disela bincang santai di Kantor Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Minggu (5/7/15). Pada kesempatan itu, Abu ditemani wakil sekretaris LP Maarif NU Jateng, Sahidin.

Karena agama lebih tajam daripada pedang, lanjutnya, maka pedang itu bisa saja menusuk atau menyabet teman sendiri. “Kalau belajar agamanya pada setan, nanti bisa saja ketajaman agama itu menghantam teman sendiri yang tidak bersalah. Ini kan bahaya,” tegasnya.

Abu bercerita pengalamanya ketika mengisi khutbah jum’at di sebuah perguruan tinggi di Semarang yang mayoritas mahasiswanya berpahamkan radikal. Ketika itu, Abu mengisi ceramah dengan tema penafsiran yang mutlak yang bertujuan menyeragamkan penafsiran.

Jangan Kaku

“Beragama itu jangan kaku. Misal saja, soal penafsiran penentuan satu syawal. Selama ini banyak yang menuntut supaya seragam. Ya itu tidak bisa. Biarkan saja keberagaman itu ada, terima saja,” tukasnya.

Mantan Ketua FKUB Jateng ini mengutarakan dalam kehidupan bermasyarakat terkadang ada pendapat yang belum menerima dengan adanya perbedaan yang ada di masyarakat. Kelompok tersebut menuntut untuk seragaman dalam pemahaman tentang agama.

Senada dengan itu, Sahidin pun mengaku prihatin dengan maraknya orang yang merasa benar sendiri dalam beragama. Menurutnya, hal tersebut juga dipengaruhi dengan pembelajaran agama secara instan. Tren belakangan ini, katanya, banyak yang merasa sudah menjadi ahli agama padahal hanya belajar dari internet.

”Lihat saja sekarang, orang yang paling merasa benar sendiri dalam beragama itu kelihatan ulama karbitan. Sifat santun dan rendah hati yang diajarkan di pesantren sama sekali tidak tampak. Tiba-tiba mereka sudah dipanggil ustadz dan ceramah, padahal ngajinya pada kiai siapa dan pesantrenya apa juga tidak ada yang tahu,” tukas Sahidin yang juga Wakil Dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang ini. [Ceprudin/001]