Islam Nusantara Itu Islam Yang Membumi

0
2729
Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Kabupaten Brebes, KH Subhan Ma'mun. [Foto: Ceprudin]

Brebes, nujateng.com- Dulu ada orang bertanya kepada Gus Dur. Gus, apa bedanya NU dengan Islam? Gus Dur menjawab: sampeyan takon kok koyo ngono, angel jawabku (Anda bertanya kok seperti itu, saya sulit jawabnya, red). Lalu Gus Dur meneruskan jawabannya, orang NU itu orang Indonesia, khususnya orang Jawa yang beragama Islam. Tapi selain NU itu orang Islam yang berdomisili di Indonesia. Jadi serba kaget, lihat tahlilan kaget, tebus weteng (mendoakan ibu hamil, red) kaget, karena bukan orang NU. Orang NU itu orang Indonesia, orang jawa, yang beragama Islam. Dekat dengan kultur, budaya. NU tidak bisa dilepaskan dengan Nusantara, tidak bisa dilepaskan dengan NKRI.

Hal itu dipaparkan oleh Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Subhan Ma’mun di kediamannya, komplek Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes, Senin (20/7) malam.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes itu, Islam dan muslim harus dibedakan. Islam bersifat universal, sedangkan muslim adalah sifat seseorang yang berhadapan dengan bumi tempat ia berpijak. Sehingga harus berkembang dengan bumi, yakni Islam berdialektika dengan lingkungan. Ini salah satu alasan yang menjadikan NU menggunakan lambang bumi.

“NU itu lambangnya bumi, harus bisa berkembang di bumi. Matsalul mu`min kannahli, orang mukmin seperti lebah. Jangan merusak lingkungan, yang penting bisa hidup bersama lingkungan. Itu lah NU. Maka Islam Nusantara ya NU itu,” jelasnya.

Tarkib Idlafah

Bagi Kiai yang akrab disapa Kang Kaji, istilah Islam Nusantara apabila dikaji dengan ilmu gramatika Arab (ilmu nahwu) bukan susunan sifat mausuf, melainkan sebagai susunan idlâfah.

“Islam Nusantara itu bukan berarti Islam disifati Nusantara, tapi Islam hidup di Nusantara. Nusantara itu bukan sebagai sifat dari Islam, itu idlâfah. Nah tergantung taqdirnya (huruf yang dikira-kirakan, red), min atau . Khâtamu hadîdin, aiy khâtamun min hadîdin (cincin dari besi, red). Qiyâmul lail, aiy qiyâm fîl lail (shalat di malam hari, red). Mâlu zaidin, aiy al-mâl li zaidin (harta milik zaid, red),” paparnya.

Lebih jauh Kang Kaji menegaskan, bahwa NU sebagaimana lambangnya yang berupa bumi, menunjukkan keramahannya terhadap budaya yang ada di bumi tempat berpijak, yakni Nusantara. “Jadi kalau berbicara NU ya Islam Nusantara. Kultur budayanya NU itu mempertahankan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syari’ah,” tegasnya. [AR/002]