Islam Nusantara Bukan Berarti Memisahkan Dari Islam Makkah

0
931
KH Subhan Ma'mun (Kiri) bersama Rais Syuriah dan Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah di sela-sela acara di Semarang belum lama ini. [Foto: Ceprudin]

Brebes, nujateng.com- Islam Nusantara yang sudah lama menjadi sebutan lain dari Islam khas Nahdlatul Ulama (NU) bukan berarti berbeda atau hendak memisahkan diri dari Islam yang berada di tanah kelahirannya, yakni Makkah. Islam di manapun tempatnya memiliki ajaran yang sama, namun Islam sebagai praktik keagamaan yang dilakukan seseorang sudah pasti memiliki perbedaan.

“Di sinilah perlu membedakan antara istilah Islam, dan muslim,” kata Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah di kediamannya, komplek Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Kabupaten Brebes, Senin (20/7) malam.

Lebih jauh kiai yang akrab disapa Kang Kaji itu menjelaskan, bahwa tradisi atau budaya dalam Islam mendapat tempat yang baik, yaitu bisa dijadikan dasar keagamaan. Dalam al-Quran banyak ayat yang menyebutkan tentang hal ini.

Contoh Islam Nusantara

Kang Kaji mencontohkan, Islam Nusantara dalam berbusana mengenakan sarung yang merupakan salah satu peninggalan orang Hindu. Sarung sebagai pakaian muslim dalam beribadah hanya dikenal di Indonesia, hal ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Yâ banî âdam, khudzû zînatakum ‘inda kulli masjid (Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap [memasuki] masjid, red). Dalam ilmu balaghah itu kan majaz mursal. ‘Inda kulli masjid itu ithlaqul mahal irâdatul hâl (menyebutkan kata tempat, tapi yang dikehendaki keadaannya, red). Apabila kita mau melakukan shalat ya sarung, lah pepahese wong Jawa ya sarung (lah pakaiannya orang Jawa ya sarung, red). Hindu niku. Apa yo salah kulo nganggo budaya hindu, wong zinah iku pepahes (Apa ya saya salah, memakai budaya hindu. Wong zînah itu artinya perhiasan, pakaian, red). ‘Inda kulli masjid, aiy ‘inda kulli shalâtin (Ketika setiap masjid, artinya ketika hendak menjalankan shalat, red). Jadi ya tidak apa-apa, bahkan ya sunnah,” paparnya.

Contoh lainnya yaitu penempatan perempuan dalam jamaah shalat. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Kabupaten Brebes itu, sekilas hal ini bertentangan dengan hadis nabi yang menyebutkan makmum perempuan diletakkan di belakang makmum laki-laki. Padahal apabila dikaji dengan seksama maka akan didapati bahwa penempatan jamaah perempuan di samping jamaah laki-laki juga sesuai dengan anjuran nabi.

“Nabi bersabda kalau sebaik-baik barisan shalat bagi perempuan itu di belakang. Nah, jangan berhenti pada hadis itu. Bahkan di Fathul Mu’în perempuan juga harus di belakang. Harus melihat pada hadis dan keterangan-keterangan yang lain, yaitu kalau perempuan ditempatkan di belakang, maka justru jamaah laki-laki akan melihat mereka, karena ada yang tidak ikut wiridan, langsung pulang. Padahal tujuan dari penempatan di belakang itu supaya tidak bertemu, makanya untuk mengantisipasi hal itu para kiai meletakkannya di samping. Samping kanan atau kiri, itu NU,” jelasnya.

Jadi, seorang muslim dalam mempraktikkan Islam tidak harus sama. Islam sebagai agama bersifat universal, tapi muslim sebagai orang yang mempraktikannya sudah pasti berbeda, disesuaikan dengan tradisinya masing-masing. Menyesuaikan diri dengan budaya setempat yang tidak bertentangan dengan syari’at bagian dari ajaran Islam itu sendiri.

“Nah kalau kita berislam kok sama, ya harus pakai gamis semua, padahal Abu Jahal juga pakai gamis. Abu Jahal pakai gamis, sorban, udeng-udengan. Berbicara Islam sama, muslimnya yang berbeda sesuai dengan perbedaan budayanya masing-masing,” tuturnya. [AR/002]