Habib Syech: Bahasa Nasihat, Bukan Sekedar Keindahan Bahasa

0
1371
Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf. [Foto: Ajie Najmuddin]

Solo, nujateng.com Banyaknya dai yang memberikan kultum dan ceramah, khususnya di Bulan Ramadhan ini, mestinya membuat umat Islam semakin paham akan ajaran Islam. Namun, terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Banyaknya kalimat nasihat yang disampaikan, tidak berbanding lurus dengan banyaknya masyarakat yang mengamalkannya.

Hal tersebut, menurut keterangan yang terdapat dalam kitab al-Hikmah
karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, disebabkan karena kurangnya
keikhlasan para dai dalam menyampaikan nasihatnya.

“Kata-kata nasihat orang yang ikhlas, meski sederhana akan mengena. Sebaliknya, ahli riya, kalimat nasihatnya akan dibuat-dibuat, justru
menjadikan para pendengarnya gelap hati,” terang Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf, pada kajian
yang diselenggarakan menjelang sahur di Gedung Bustanul Asyiqin Solo,
Jumat (12/7).

Lebih lanjut dijelaskan Mustasyar Syuriyah PWNU Jateng itu, keikhlasan
kalam dari para orang saleh dan ulama, menjadikan kalam mereka selama
ribuan tahun sampai sekarang tetap diperhatikan dan dipelajari umat Islam.

“Bahasa nasihat itu bahasa ikhlas, bukan sekedar pintar bicara atau indahnya bahasa. Kita lihat nabi, kalau menyampaikan sederhana tapi maknanya dalam. Misal ketika ditanya apa itu iman? Dijawab iman itu menjaga Islam,” papar Habib Syech.

Kajian menjelang sahur ini diselenggarakan tiap dini hari Selama Bulan Ramadhan di Gedung Bustanul Asyiqin Solo. Pada kegiatan tersebut
menghadirkan beberapa ustadz antara lain Habib Muhammad bin Husein
Al-Habsyi, Kiai Anshori (LBM PCNU Solo), dan lainnya. [Ajie Najmuddin/002]