Bersama Anak Muda NU, Mahasiswa Amerika Belajar Toleransi

0
819
Foto Bersama: Ketua PWNU Jateng, Abu Hapsin, Ph.D, Pengurus Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, foto bersama dengan rombongan Mahasiswa dari Amerika Serikat usai kunjungan pada Jumat (31/7). [Foto: Salam]

Semarang, nujateng.com- Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Abu Hapsin mengatakan, NU adalah bentengnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia masih utuh hingga sekarang, katanya, tidak lepas dari peran NU yang selalu terdepan dalam memupuk toleransi antar umat beragama.

”Kalau saja NU menyetujui (negara Islam), ya Indonesia akan jadi negara Islam. Tapi akibatnya negara ini akan pecah belah. Hindu di Bali, Indonesia bagian timur yang mayoritas Kristen otomatis akan memisahkan diri,” katanya disela kunjungan 19 mahasiswa Amerika ke Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Jumat (31/7). eLSA merupakan komunitas kajian yang didirikan oleh anak-anak muda NU di Semarang.

Sebagai informasi, 19 mahasiswa Amerika itu sedang studi magister dan doktoral di 12 Universitas di Amerika Serikat. Dari kampusnya, mereka mendapat kesempatan belajar bahasa Indonesia yang merupakan program pendek 9 minggu di Language Training Center (LTC) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Mereka berkunjung ke eLSA untuk diskusi pluralisme dan kekerasan atas nama agama di Indonesia.

Abu sebagai pendiri eLSA mengungkapkan peran penting para tokoh NU dalam memperjuangkan kemerdekaan. Namun, katanya, sejak awal merumuskan dasar Negara ini, tokoh-tokoh NU tidak menghendaki Indonesia berdasar ideologi Islam. Tapi sepakat bahwa Pancasila sudah final.

“Tokoh-tokoh seperti KH Hasyim Asyari’ dan KH Wahid Hasyim mempunyai andil besar dalam berdirinya Indonesia. Namun sebagai sebagai pendiri bangsa ini beliu tidak menghendaki negara Islam. Tapi cukup nilai-nilainya saja yang menjadi ruh negara ini. Karena itu toleransi antar agama selalu dijaga,” tukasnya.

Demokrasi

Dalam diskusi yang berjalan 2 jam itu muncul pertanyaan bagaimana perkembangan aliran garis keras sebelum dan sesudah reformasi. Hal itu menjadi pertanyaan karena kelompok-kelompok ekstrim semasa rezim militer atau sebelum reformasi cenderung tidak berkembang.

Menjawab pertanyaan Direktur eLSA Semarang Tedi Kholiludin menjelaskan bahwa sebelum masa reformasi kelompok-kelompok ekstrim yang tidak Pancasilais terus ditekan. Sehingga itu tidak ada kesempatan untuk bersuara. Berbeda dengan sekarang, meskipun kecil, kelompok ekstrim justru bersuara lantang.

“Tapi setelah masa reformasi, semua kelompok dan ideologi bermunculan termasuk ideologi ekstrim. Itulah konsekuensi dari sistem demokrasi. Meski demikian, model ini lebih baik. Kita tidak akan bisa membaca buku Karl Marx atau bebas berdiskusi di kampus seperti halnya ketika ada program NKK/BKK dulu di kampus,” papar Tedi.

Menurut Tedi, Indonesia bukan negara sekuler dan juga bukan negara agama. Akibatnya hubungan antara agama dan negara menjadi tidak jelas. Dikatakan sekuler juga tidak, karena negara ada Kementerian agama. Negara agama juga bukan karena Indonesia dasarnya negaranya Pancasila.

”Nah dalam hal ini pesantren mempunyai andil besar dalam membangun harmoni dalam relasi agama dan negara. Pesantren mengajarkan kesederhanaan, toleransi dan kesabaran. Dalam menjaga relasi antar umat beragama, pesantren dan NU selalu mengupayakannya, bersama-sama dengan Muhammadiyah serta organisasi moderat lainnya,” tandas Tedi. [Ceprudin/001]