Berjuang Demi NU Tak Boleh Pamrih

1
1078
Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Subhan Ma'mun. [Foto: Ceprudin]

Brebes, nujateng.com- Mendekati Muktamar NU Ke 33 di Jombang Jawa Timur yang akan berlangsung mulai 1-5 Agustus, berbagai isu miring hingga fitnah yang menyerang para kiai terus bermunculan. Isu-isu ini menurut Wakil Rais PWNU Jawa Tengah, KH Subhan Ma’mun, sebenarnya bukan datang dari para kiai NU, tapi dari orang yang hendak merusak NU dan orang-orang ambisius yang menjadikan NU sebagai kendaraan menuju politik praktis.

“Dalam tradisi NU, yang menginginkan kekuasaan ada di tangannya itu jangan dipilih. Tapi yang tidak mau itu justru yang harus diberi kekuasaan. Ini seperti dalam sabda nabi Muhammad,” terangnya kepada nujateng.com di kediamannya, komplek Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes, Senin (21/7) malam.

Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes itu menjelaskan, bahwa mengabdi kepada NU harus didasarkan pada rasa ikhlas. NU sebagai tujuan, bukan lantaran untuk menggapai kekuasaan, apalagi untuk memperkaya diri.

“Yang menjadikan NU langgeng, didirikan atas dasar ikhlas. Orang-orang dulu berjuang demi NU tak berharap uang saku, mau Muktamar, musyawarah, rapat, dan lain-lain ya ngrogoh (mengambil) dari sakunya sendiri-sendiri. Jadi tidak ada istilah dikasih uang saku,” lanjutnya.

Jual Sepeda Ontel dan Kalung Istri

Kiai yang akrab disapa Kang Kaji itu menceritakan, para kiai zaman dahulu dalam mengurus NU tidak menempatkan uang sebagai prioritas. Beliau-beliau tak hanya memberikan tenaga dan pikiran, tapi juga materi. Bahkan, tidak sedikit para kiai zaman dahulu yang jika mau berangkat ke acara NU harus menjual barang-barang yang dimilikinya, seperti Kiai Masduqi Ciwaringin Cirebon yang menjual sepeda ontelnya untuk biaya berangkat ke acara Muktamar di Situbondo, dan ayah dari Kiai Subhan sendiri, al-marhum KH Ma’mun Ma’sum, meminjam perhiasan kalung istrinya untuk kemudian uangnya digunakan sebagai bekal berangkat Muktamar NU di Semarang.

“Luar biasa kiai-kiai dahulu dalam memperjuangkan NU, benar-benar berkorban. Tidak mengenal dapat pesangon (uang saku, red). Kiai Masduqi jual sepeda ontel. Saya diceritain sama ibu saya, Muti’ah. Mut, sini kalungnya saya pinjam, buat ongkos acara Muktamar, kata Bapak saya. Itu saya diceritain sama ibu saya. Jadi, masyaallah, keikhlasan para kiai-kiai zaman dahulu itu luar biasa,” kenangnya, terharu.

Belajar dari keikhlasan para pendiri NU dan penerus perjuangannya dalam mengelola ormas Islam terbesar di Indonesia ini, kiai Subhan mengajak kepada segenap pengurus NU, baik di tingkat pusat, cabang, maupun ranting, serta seluruh warga nahdliyin supaya mengabdi kepada NU tanpa pamrih. “Saya yakin, kalau NU ingin tetap berwibawa maka kuncinya NU harus dikembalikan kepada paradigma semula, yaitu harus ikhlas, tanpa pamrih,” pesannya. [AR/002]