Terima Syiah Iraq, NU Jateng: Harus Dialog Untuk Jaga Kerukunan

0
723
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bersama ulama Syiah Iraq. [Foto: Ceprudin]

Semarang, nujateng.com- Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Dr KH Mohammad Arja Imrani, mengatakan, dialog antar madzhab atau agama sangat diperlukan untuk merawat kerukunan umat beragama dalam kehidupan bernegara.

“Kalau di Indonesia tidak ada dialog antar madzhab, antar sekte, mungkin negara kita (Indonesia, red) sudah seperti Iraq,” katanya di hadapan tiga tokoh ulama Syiah asal Iraq yang berkunjung kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, di Kantor PWNU Jateng, Jl Dr Cipto 180 Semarang, Jumat (5/6).

Pernyataan Kiai Arja, spontanitas disetujui oleh tiga ulama Syiah itu, yakni Sayid Izzuddin al-Hakim, Sayid Muhammad al-Hakim, dan Syaikh Ridlo az-Zabidi. Ketiganya didampingi Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia, Ustadz Miqdad Turkan, Lc, dan Dewan Pengurus Wilayah Ahlul Bait Jawa Tengah, Ahmad Mudjahid MS.

Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidulloh Shodaqoh, dalam dialognya menyampaikan, walaupun dalam Islam ada banyak madzhab dan sekte, namun semuanya dipastikan memiliki sisi kesamaan yang menjadi titik temu antara satu dengan yang lainnya. “Dalam tradisi Nahdlatul Ulama ada wiridan Lî khamsatun uthfî bihâ harral wabâ`il hâthimah, al-mushthafâ, wal murtdlâ, wabnâhumâ wal fâthimah (Aku punya lima yang dengannya aku dapat memadamkan panasnya penyakit berjangkit. Lima itu; nabi yang terpilih, Ali yang diridoi, kedua putranya/Hasan dan Husein, Fathimah). Ini nama-nama yang menjadi sanjungan orang-orang Syiah, tapi kita (Sunni) juga melantunkannya,” tuturnya.

Dalam dialog yang berlangsung selama 3 jam dengan menggunakan bahasa Arab itu, Ketua PWNU Jateng Drs KH Abu Hapsin, Ph.D, menegaskan, bahwa selama NU masih besar, keharmonisan antar sekte dan agama di Indonesia akan terawat dengan baik. “Orang NU akan tetap menjalin hubungan baik dengan siapapun, akan selalu menjaga kerukunan. Walaupun ada beberapa lembaga lain yang menerbitkan buku dan memberi fatwa sesat terhadap Syiah, warga NU akan tetap menjaga kehidupan yang harmoni,” paparnya.

Dasar Yang Sama

Sementara ulama Syiah asal Iraq, Sayid Izzuddin al-Hakim, menyampaikan bahwa menurutnya perbedaan Syiah dengan ahlussunnah wal jama’ah hanya terjadi pada persoalan sekunder (furu’), yakni dalam pokok-pokok ajarannya sama. “Kami (Syiah) memiliki al-Quran yang sama sebagaimana Sunni, memiliki hadis yang sama, sama-sama mencintai ahlul bait (keluarga/keturunan nabi Muhammad). Jadi perbedaannya bukan pada persoalan yang mendasar, paling bedanya hanya dalam hukum Islam,” katanya.

Lebih jauh Sayid Izzuddin menuturkan, bahwa yang memiliki perbedaan fundamental dengan Syiah adalah Khawarij. “Beda dengan Khawarij, mereka benar-benar menghalalkan darah kita (Syiah, red). Kita menurut mereka halal darahnya,” terangnya.

Kendati tiga ulama Syiah asal Iraq itu menyampaikan beberapa titik temu antara Sunni dan Syiah, namun Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah yang hadir dalam acara yang gayeng itu menegaskan, bahwa penghormatan Syiah kepada keluarga nabi Muhammad sampai saat ini masih tebang pilih. “Kita (Sunni dan Syiah, red) sama-sama menghormati ahlul bait, namun ahlul bait siapa dan caranya kita berbeda. Kita (Sunni, red) menghormati semua sahabat, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat nabi lainnya. Sedangkan Syiah walaupun katanya menghormati semua sahabat nabi, tapi tiga nama sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak pernah disebut secara jelas dalam penghormatan dan sanjungan,” tegas Kiai Arja. [AR/002]