Puasa itu Membangun Kepedulian Sosial

0
979
Dr. KH. M. Arja Imroni, saat menyampaikan mau'idhoh hasanah. [Foto: Salam]

Semarang, nujateng.com- Salah satu hikmah puasa adalah membangun kepedulian sosial. Ibadah-ibadah yang mengiringi pelaksanaan puasa, sebagai salah satu rukun Islam, semestinya tidak hanya dalam konteks ibadah yang bersifat konvensional semata, tetapi juga sosial. Dengan begitu, ibadah puasa pada gilirannya juga memiliki dampak secara sosial.

Demikian disampaikan oleh Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Dr. KH. M. Arja Imroni, Selasa (30/6). Doktor Ilmu Tafsir itu menyampaikan hikmah puasa di sela-sela kegiatan pertemuan rutin pegiat HIV/AIDS diselenggarakan oleh PW Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Jawa Tengah di Hotel Citra Dream Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, Arja menambahkan bahwa jika diibaratkan, Islam itu diibaratkan rumah. “Rumah itu harus ada fondasinya. Dalam Islam, syahadat itu adalah fondasinya,” ungkap staf pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Namun, fondasi tentu hanya fondasi, belum bisa dikatakan rumah. Makanya, berIslam tidak semata-mata syahadat, harus ada tiang pancangnya. “Sholat itu adalah tiangnya. Dalam hadits disebutkan bahwa sholat itu adalah tiang agama. Yang mendirikannya, berarti mendirikan agama. Kalau merobohkan, berarti juga merobohkan agama,” tambahnya.

Puasa bisa diibaratkan sebagai temboknya. “Agar kualitas temboknya bagus ya modalnya itu bata, pasir sama semen. Biar temboknya bagus, jangan sampai kemudian puasanya sebatas ritual menahan lapar mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Kita tiru Rasulullah, banyak amaliyah yang dilaksanakan berbarengan dengan puasa. Amaliyah yang bersifat ibadah vertikal maupun horizontal atau sosial. Teman-teman yang berjuang untuk penanggulangan HIV AIDS ini juga bagian dari yang beramal juga,” urainya.

Setelah rumah itu jadi, tentu ia butuh ventilasi, karena kalau tidak ada, jadi pengap. “Itulah zakat. Zakat yang membuat rumah kita menjadi segar karena ada sirkulasi udara. Pintunya harus ada, jendela juga. Kalau perlu AC” terang Arja. Yang berikutnya adalah haji. “Jika kembali diibaratkan rumah, haji itu dilakukan kalau ada, kalau mampu. Jika tidak ada ya tidak apa-apa. Artinya, kalau rumah itu fondasinya kuat, pancangannya kuat, temboknya bagus dan ventilasinya ada itu sudah cukup. Cukup menjadi tempat naungan kita. Kalau ada harta lebih, kita bisa menghiasinya dengan kaligrafi, lukisan dan lainnya,” ungkap alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengandaikan.

Tujuan pelaksanaan puasa adalah agar manusia bertransformasi dari derajat iman ke taqwa. Puasa harus menjadi kawah candradimuka untuk jadi baik. “Tapi tidak semua yang puasa jadi baik. Kalau sekadar tidak makan, menahan minum dan tidak ngeseks, ayam pun bisa,” Arja mengingatkan. Karenanya, puasa mestinya dilaksanakan agar tidak hanya sekadar ritual tahunan yang tidak berarti. “Keluar dari puasa, kita ibarat kepompong. Jadi manusia baru, yang indah perilakunya dan martarbatnya,” pesannya mengakhiri taushiyah. [T-Kh/001]