Pondok Pesantren, Jantung Pendidikan Di Indonesia

1
872
Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin pidato dalam acara ‘Halaqoh Pengembangan Leadership Pimpinan Pondok Pesantren’ di Hotel Aston Semarang, Sabtu (13/6). [Foto: Ceprudin]

Semarang, nujateng.com- Menteri Agama RI, H Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan, pondok pesantren adalah jantung pendidikan di Indonesia dan merupakan sistem pendidikan Islam terbaik yang juga diakui oleh ulama di dunia. Menurutnya, sejarah telah membuktikan peran besar pondok pesantren dalam merebut kemerdekaan dan mendirikan Negara Indonesia.

“Pesantren merupakan sebuah kekuatan dalam melawan penjajah,” tuturnya dalam acara ‘Halaqoh Pengembangan Leadership Pimpinan Pondok Pesantren’ di Hotel Aston Semarang, Sabtu (13/6).

Tetapi dalam perkembangannya, pondok pesantren tidak bisa lepas dari problem, salah satunya tamatan pondok pesantren tidak bisa diterima oleh dunia kerja hanya karena ijazanya tidak sama dengan pendidikan formal.

Maka dari itu Kemenag membuat satu kebijakan yang bertujuan untuk mengembangkan pondok pesantren, baik dalam segi manajerial, penyetaraan, maupun dalam segi legalitas serta kemampuan lulusan pesantren itu sendiri.

Sekarang, lanjut Menag, Kementerian Agama terus berupaya menyiapkan regulasi agar lulusan pondok pesantren tetap bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, agar bisa menghadapi tantangan globalisasi yang semakin kompleks.

Ia pun mengajak para kiai, ustadz dan para santri untuk menguasai teknologi informasi. Konten internet perlu dipenuhi oleh ajaran para kiai dan karenanya santri harus aktif mengisi dunia maya dengan aneka keilmuan pondok pesantren.

Lukman Hakim berharap halaqah tersebut bisa menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti masyarakat pesantren dalam merespon dan mengantisipasi perkembangan globalisasi. Ia katakan, pemerintah akan terus berupaya bekerjasama dengan pesantren dalam membangun Indonesia.

Sebelumnya, Sesditjen Pendis  Ishom Yusqi dalam sambutannya mewakili Dirjen Pendis menyampaikan, bahwa pelaksanaan halaqah ini diikuiti oleh 169 peserta yang terdiri dari pimpinan pondok pesantren, serta para kiai, dan ustaz.

Acara dimaksudkan sebagai wahana silaturahim para pimpinan pondok pesantren, tempat bermusyawarah untuk pengembangan pendidikan dan kemandirian di masa mendatang, serta pengembangan tatakelola pondok pesantren.

Hadir dalam acara tersebut Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidullah Sodaqoh dan Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng KH Abu Hapsin, Ph.D beserta jajarannya, Ketua Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) Jateng KH Abdul Ghaffar Razin dan sejumlah pengurus lembaga lajnah dan badan otonom NU Jawa Tengah. [Ichwan/002]