Pondok Pesantren Harus Lestarikan Budaya Nusantara

0
1009
Salah satu penampilan Reog, kesenian budaya asal Ponorogo dalam acara ‘Karnaval Budaya’ di Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah, Dukuh Sidomukti Kota Salatiga, Rabu (3/5). [Foto: SR]

Salatiga, nujateng.com- Ribuan santri dan masyarakat tumpah ruah menyaksikan karnaval budaya dalam rangka ‘Haflah Akhirussanah Ke XXI Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah’ di halaman Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah, Jl Bima No 02 Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga, Rabu (3/5).

Acara Haflah dibuka dengan Sema’an al-Quran oleh santri dan santriwati yang hafal al-Quran, lalu dilanjutkan dengan temu alumni, karnaval budaya, khotmil Qur`an, dan ditutup dengan tabligh akbar dengan pembicara KH Zuhrul Anam dari Purwokerto.

Pengasuh pondok pesantren yang menerapkan sistem pendidikan tradisional ini, KH M Zoemri RWS, menuturkan, acara Haflah tidak hanya diikuti oleh para santri dan alumni, tapi juga masyarakat.

Baginya, pondok pesantren bukan pendidikan yang jauh dari masyarakat, tapi sebaliknya, harus dekat dan menjadi pelayan bagi siapa saja. “Acara dibuat meriah karena ini milik masyarakat,” terangnya.

Selain menjadi pelayan bagi masyarakat, menurutnya, pondok pesantren yang menjadi kekhasan pendidikan di Indonesia juga harus merawat kebudayaan nusantara.

“Islam di Indonesia disebarkan dengan cara damai, para wali tidak menghilangkan kebudayaan Jawa. Tapi malah dijadikan sebagai wasilah (media, red) untuk memperkenalkan agama ini. Sehingga orang-orang Jawa tidak kaget, banyak yang tertarik, lalu masuk Islam. Budaya dan agama itu tidak bertentangan, tapi saling mengisi. Ibarat agama sebagai ruh, maka budaya itu jasmani. Makanya, budaya itu perlu dilestarikan,” paparnya. [AR/002]