NU Jateng Waspadai Intervensi Politik

1
855
Pengarahan: Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D (pegang mic) bersama Rektor Unisula, Prof Anis Malik Thoha, memberikan pengarahan pada malam lailatul ijtima’ Rabu (3/5/15) di Kantor PWNU Jateng, Jl Dr Cipto, Semarang. [Foto: Ceprudin]

Semarang, nujateng.com- Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abu Hapsin, Ph.D berpesan supaya mewaspadai intervensi politik menjelang Muktamar. Sudah dipastikan, hajat akbar ormas terbesar di Indonesia itu akan digelar pada 1-5 Agustus di Jombang, Jawa Timur.

“Kita sudah mewaspadai adanya intervensi politik. Biasanya ketika ada hajat seperti ini (muktamar) selalu ada friksi-friksi yang terjadi. Intervensi ini yang biasanya mengganggu persaudaraan di internal NU sendiri,” katanya, pada malam lailatul ijtima’ Rabu (3/5/15) di Kantor PWNU Jateng, Jl Dr Cipto, Semarang.

Untuk mengantisipasinya adanya intervensi politik dari luar, PWNU Jateng mengusulkan pemilihan dengan sistem ahlul hali wal aqdi. Usulan itu juga disetujui oleh PWNU Jawa Timur. Dengan menggunakan sistem itu, katanya, calon Ketua Tanfidziyah merupakan usulan dari Rais Am dan ahlul hali wal aqdi.

“Sistem ini tujuanya, supaya Tanfidziyah dan Rais Aam terpilih seiya-sekata dan seirama. Konsep ini pada munas di Jakarta sudah disepakati. Namun, perkembangan terakhir belum pasti karena PWNU Jateng, dalam dua rapat persiapan Muktamar terakhir tidak di undang,” tandasnya.

Pendiri NU

Pada sambutanya, Abu mengumumkan bahwa lailatul ijtima’ malam itu kemungkinan terakhir sebelum bulan puasa. Malam pertemuan bulanan pengurus PWNU Jateng akan digelar kembali setelah muktamar di Jombang pada bulan September mendatang. Ia juga mengimbau kepada warga Nahdliyin supaya konsisten menjaga tradisi NU yang tolrean.

Rektor Universitas Sultan Agung (Unisula) Prof Anis Malik Thoa yang hadir sebagai penceramah berpesan sama. Menurutnya, ketika NU mengikuti kehendak politis justru berseberangan dengan niat serta tujuan awal didirikanya jam’iyah NU. Menurutnya, hal itu sudah menyimpang dari titel atau predikat sebagai ulama.

“Harus dicermati, dulu jam’iyah yang diimpikan, dengan usianya yang cukup tua ini, belum sampai pada titik yang diimpikan. Saya pribadi mengajak mari kita wujudkan, realisasikan jam’iyah ini benar-benar sesuai dengan yang dicita-citakan para pendiri. Juga sesuai dengan hakikat namanya, NU,” paparnya.

Ia mengajak untuk merenungkan kembali standar-standar ber-NU yang telah ditentukan oleh para pendirinya. Dalam sistem pengajaran di madrasah, ia menekankan supaya lebih kepada rujukan utama kitab kuning yang selama ini menjadi pegangan utama warga Nahdliyin. [Ceprudin/001]