Menebar Rahmah di Bulan Penuh Berkah

1
7138
[Foto: www.dawahskills.com]

Oleh: Khoirul Anwar*

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الرَّحِيْمِ الرَّحْمَنِ، أَمَرَ بِالتَّرَاحُمِ وَجَعَلَهُ مِنْ دَلاَئِلِ الإِيْمَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْمُتَوَالِيَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، الرَّحْمَةُ الْمُهْدَاةُ، وَالنِّعْمَةُ الْمُسْدَاةُ، وَهَادِي الإِنْسَانِيَّةِ إِلَى الطَّرِيقِ الْقَوِيْمِ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوْصِيْكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia

Sebentar lagi bulan ramadlan akan datang. Dalam bulan ini, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh supaya dapat menjadi pribadi yang baik, atau dalam istilah al-Quran disebut sebagai orang yang bertaqwa.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

لِكُلِّ شَيْءٍ بَابٌ، وَبَابُ الْعِبَادَةِ اَلصَّوْمُ

Artinya: “Segala sesuatu memiliki pintu, dan pintu ibadah adalah puasa.”

Apabila puasa dijalankan dengan bersungguh-sungguh, maka ibadah lainnya dapat dijalankannya dengan baik. Logikanya, tidak mungkin seseorang dapat melewati pintu kedua tanpa membuka pintu yang pertama. Jadi, puasa harus dijalankan dengan penuh ketulusan dan kesabaran.

Imam Abû Hâmid al-Ghazali dalam karyanya, Ihyâ` ‘Ulûmiddîn, mengatakan, puasa adalah seperempat iman. Pernyataan ini berdasarkan pada hadis Nabi: (الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ) puasa adalah separuh sabar. Sedangkan sabar adalah separuh iman (الصَّبْرُ نِصْفُ الْإِيْمَانِ).

Hadirin yang dimuliakan Allah

Dalam hadis Nabi di atas dikatakan, sabar adalah separuh iman. Pernyataan demikian sangat beralasan karena seseorang tidak mungkin meninggalkan larangan-larangan Allah dan menjalankan perintah-perintah-Nya tanpa menerapkan kesabaran.

Memasuki bulan ramadlan setidaknya ada 2 kesabaran yang harus diterapkan oleh umat Islam, yaitu; sabar menjalankan puasa (ibadah), dan sabar menghadapi godaan.

Pertama, sabar menjalankan puasa, yaitu sabar dalam menahan segala hal yang dapat membatalkannya. Menurut Imam al-Ghazali, sabar dalam beribadah sangat berat karena secara naluri manusia tidak suka “menghamba”. Dalam hal ini adalah menghamba kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Manusia lebih suka menguasai, daripada dikuasai.

Kata para sufi, dalam diri manusia terdapat sifat “ke-Fir’aun-an”. Kepada kaumnya, Fir’aun mengatakan, “akulah tuhan (penguasa dan pemelihara) kalian yang lebih tinggi.” Fir’aun tidak mau menjadi hamba sebagaimana ajakan Nabi Musa untuk menyembah Allah. Bagi Fir’aun, dirinya tidak pantas menyembah, tapi sebaliknya, “disembah”.

Sifat ke-Fir’aun-an ini tidak hanya terjadi dalam menyembah Tuhan, tapi dalam semua aktivitas kehidupan, manusia memiliki kecenderungan lebih tinggi, lebih kuat dan ingin menguasai. Dalam bergaul, manusia lebih suka mementingkan dirinya untuk dihormati daripada menghormati, lebih memilih menguasai daripada mentaati. Ketika pembantu, karyawan, atau orang-orang yang berada dalam kekuasaannya melakukan kesalahan, maka majikan, pemimpin, ketua, direktur, atau orang yang merasa punya kekuasaan lebih tinggi akan bertindak kasar, menghukum, dan tidak beretika. Di sinilah sifat sabar sangat diperlukan.

Sabar dalam beribadah memiliki 3 tahapan, yaitu; 1) sabar sebelum beribadah (قَبْلَ الطَّاعَةِ), yakni dengan memperbaiki niat, ikhlas, dan tidak pamer (riyâ`). 2) sabar ketika beribadah (حَالَةَ الْعَمَلِ), yakni tidak melupakan Allah, tidak malas, dan konsisten menjalankan semua peraturan ibadah yang sedang dijalankannya dari awal hingga akhir. 3) sabar setelah beribadah (بَعْدَ الْفِرَاغِ مِنَ الْعَمَلِ), yakni tidak menceritakannya kepada orang lain supaya dirinya dipuji, dan tidak membanggakan diri.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Sedangkan sabar kedua dalam bulan ramadlan, yaitu sabar menghadapi godaan. Semua ibadah pasti memiliki tantangan, pasti dalam perjalanannya akan menjumpai godaan. Karenanya, Imam al-Ghazali menegaskan bahwa الصَّبْرُ عَلَى الطَّاعَةِ شَدِيْدٌ sabar dalam beribadah itu berat.

Pada bulan ramadlan kerap kali kita jumpai ada sebagian saudara-saudara kita meminta dihormati. Salah satunya meminta supaya warung makan harus ditutup selama puasa berlangsung. Bukan bermaksud mendorong seseorang untuk tidak berpuasa, tapi perlu disampaikan, bahwa dalam Islam ada orang-orang yang memang diperbolehkan untuk tidak berpuasa, yakni seperti orang yang sedang sakit dan orang-orang yang sedang bepergian (musâfir). Maka, selain kita harus menyadari bahwa “setiap ibadah pasti memiliki godaan”, kita juga perlu memahami bahwa di antara warga Negara Indonesia ada sebagian orang yang memang mendapatkan keringanan (rukhshah) untuk tidak berpuasa. Di sinilah, perlunya orang-orang yang berpuasa mempraktikkan kesabaran.

Pemilik warung makan tetap berjualan pada siang hari, bukan bertujuan untuk menggoda orang-orang yang sedang berpuasa, tapi karena selain mencari nafkah juga menyediakan makanan dan minuman untuk pembeli yang tidak punya kewajiban berpuasa.

Apabila tujuan para pemilik warung memang untuk membujuk orang-orang yang berpuasa, maka Islam menganjurkan kepada umatnya untuk tetap bersabar, yakni membiarkannya beraktivitas sembari orang yang berpuasa menahan diri dari segala godaan-godaan yang bermunculan di hadapannya.

Imam al-Ghazali menjelaskan, apabila seseorang disakiti dengan ucapan atau perbuatan, maka dianjurkan harus bersabar, yakni dengan tidak membalasnya. Sebagian sahabat Nabi Saw berkata:

مَا كُنَّا نَعُدُّ إِيْمَانَ الرَّجُلِ إِيْمَاناً إِذَا لَمْ يَصْبِرْ عَلَى الْأَذَى

Artinya: “Kita tidak menganggap seseorang masih beriman apabila tidak sabar menghadapi sesuatu yang menyakitkan atau membahayakan pada dirinya.”

Dalam QS. Ali ‘Imrân 186 Allah Swt berfirman:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu, dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”

Imam Al-Ghazali menulis:

“Dalam kitab Injil, aku melihat ada keterangan, Nabi Isa bin Maryam berkata: ‘Sungguh, telah dikatakan kepada kalian sebelumnya, bahwa gigi dibalas dengan gigi, dan hidung dibalas dengan hidung. Sekarang saya berkata kepada kalian: Janganlah kalian membalas keburukan dengan keburukan. Tapi, barangsiapa memukul pipi kananmu maka berikan pipi kirimu kepadanya. Barangsiapa mengambil selendangmu maka berikan sarungmu kepadanya.”

Semua ini, kata Imam al-Ghazali, adalah perintah untuk bersabar atas sikap dan tindakan orang lain yang menyakitkan. Sehingga, sabar atas hal demikian merupakan derajat tertinggi dalam kesabaran (مِنْ أَعْلَى مَرَاتِبِ الصَّبْرِ).

Dalam al-Quran, kata sabar dengan berbagai derivasinya disebutkan sebanyak 103 kali. Dalam beberapa ayat (seperti dalam QS. Hûd 11) kata sabar disebut bersamaan dengan kata ash-shâlihât (الصالحات), yakni perintah berbuat baik. Dalam ayat lain, perintah bersabar juga disebut bersamaan dengan perintah menebar kasih sayang sebagaimana dalam QS. Al-Balad 17 Allah berfirman:

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

Artinya: “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”

Ini semua mengandung pengertian bahwa dalam menjalankan perbuatan baik harus diiringi dengan rasa sabar; sabar atas ibadah yang dijalankan, dan sabar atas segala godaan dan rintangan. Selain harus bersabar, juga tetap menebar kasih sayang kepada semua umat manusia. Nabi bersabda:

إِنِّيْ لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

Artinya: “Aku diutus bukan untuk melaknat, tapi aku diutus untuk menebar kasih sayang.”

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ اِرْحَمُوْا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ

“Orang yang menebar kasih sayang maka akan disayang Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sayangilah penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu.”

Demikianlah bahwa Islam mengajarkan manusia untuk bersabar, dalam hal apapun, termasuk di dalamnya dalam menjalankan ibadah puasa. Selain itu, ajaran cinta kasih, menebar kasih sayang kepada semua makhluk juga harus secara bersamaan dilakukan. Sehingga, dalam menjalankan puasa kita tak perlu minta dihormati, dan dalam waktu bersamaan kita tetap menebarkan rasa welas asih kepada semua.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

—Khutbah Kedua—

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أمَّا بعدُ: فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ
وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، اللَّهُمَّ بلِّغْنَا رَمَضَانَ وأَعِنَّا علَى صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدِّيْنِ والدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنَا حُبَّكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِينَ، وَوَفِّقْنَا جَمِيعًا لِلسَّيْرِ عَلَى مَا يُحَقِّقُ الْخَيْرَ وَالرِّفْعَةَ لِهَذِهِ الْبِلاَدِ وَأَهْلِهَا أَجْمَعِينَ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ صَلاَتَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْ جَمِيعَ أَعْمَالِنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ

عِبَادَ اللهِ  إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

*Aktif di Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jawa Tengah

Bahan Bacaan

Abû Hâmid al-Ghazali, Ihyâ` ‘Ulûmiddîn, 2004, Dâr al-Hadîts: Kairo

Abû Zahrah, Nadhariyah al-Harb fî al-Islâm, cet. II, 2008, Jumhûriyah Mishr al-‘Arabiyah-Wizârah al-Auqâf: Mesir