Menag Persilahkan Warung Makan Buka Selama Ramadlan

1
761
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (tengah) dalam acara ‘Halaqah Pengembangan Leadership Pimpinan Pondok Pesantren’ di Hotel Aston, Semarang, Sabtu (13/6). [Foto: Ceprudin]

Semarang, nujateng.com- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak seluruh masyarakat untuk saling menghormati dan memupuk rasa persaudaraan selama bukan puasa. Ramadlan sebagai bulan mulia, harus dijadikan sebagai momentum untuk menyucikan jiwa dan menata lisan serta tindakan.

Putra mantan Menag al-Marhum KH Saifuddin Zuhri itu, mengingatkan umat Islam agar tidak meminta orang lain menghormati orang yang berpuasa. Karena yang berpuasa juga perlu menghormati kepada saudaranya yang tidak menjalankan puasa.

Termasuk umat muslim sendiri yang tidak berkewajiban berpuasa di bulan Ramadlan, alias bisa diganti di bulan lain. Yakni seperti wanita muslimah yang sedang haidl atau nifas, ibu hamil atau menyusui, orang jompo, orang sakit, musafir, dan anak-anak yang belum baligh.

“Menghormati itu tindakan yang lebih mulia dibandingkan dengan dihormati. Tentu  semua orang sadar bahwa umat Islam berpuasa di bulan Ramadlan, namun juga harus dimengerti ada sebagian saudara kita yang sedang tidak berpuasa,” katanya usai membuka acara ‘Halaqah Pengembangan Leadership Pimpinan Pondok Pesantren’ yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia di Hotel Aston, Semarang, Sabtu (13/6).

Menag menyatakan, umat Islam yang baik tentu tidak akan memaksa pihak lain menghormati dirinya, karena menghormati itu harus wujud kesadaran diri dari pihak lain. Lebih buruk lagi jika keinginan dihormati itu dilakukan dengan melakukan kekerasan.

“Orang puasa itu melaparkan diri untuk melatih menahan hawa nafsu. Lah merasa lapar kok marah-marah kepada orang lain yang dia inginkan harus menghormati puasanya. Cara-cara kekerasan harus dihindari,” tandasnya.

Itulah sebabnya ia mempersilakan warung-warung tetap buka, tidak perlu ditutup, apalagi secara paksa. Namun bila pemilik warung menutup warung, itu juga patut dihormati.

Menurutnya, masyarakat sudah punya cara kompromi yang bagus soal warung, yaitu warung-warung yang buka di siang hari, menutup sebagian warungnya sehingga tidak terlihat terang-terangan kalau buka. Pembeli tetap bisa masuk melalui pintu yang dibuka sebagian atau di balik kain.

“Tidak  boleh ada paksaan untuk menutup warung di bulan puasa. Bila ada yang sukarela menutup warungnya, tentu kita hormati. Tapi Muslim yang baik tidak memaksa orang lain menutup sumber mata pencahariannya demi tuntutan hormati yang sedang puasa,” ujarnya.

Dia menambahkan, warung yang buka di bulan puasa itu tidak mesti berarti mendorong orang untuk tidak berpuasa. Namun bisa jadi menyediakan makanan untuk orang non muslim atau muslimin yang tidak berpuasa seperti anak-anak, musafir, orang sakit, orang jompo yang lemah, perempuan yang sedang haid, hamil, menyusui.

Awal Ramadlan

Terkait dengan penentuan awal Ramadlan 2015 atau bertepatan dengan 1436 H, Menag menjelaskan, Kementerian Agama bersama ulama, kiai, tokoh ormas Islam, dan pakar ilmu falak/astronomi akan melakukan sidang itsbat (penentuan awal Ramadlan, red) pada Selasa (16/6) petang di Jakarta.

Ia menyebutkan adanya kemungkinan kesamaan waktu awal puasa, karena kemungkinan hilal tidak terlihat di tanggal 29 Sya’ban. Jadi kemungkinan besar digenapkan 30 hari, sehingga Ramadlan akan dimulai 18 Juni.

“Ada kemungkinan hilal tidak terlihat pada Selasa 29 Sya’ban besok. Maka mungkin diputuskan istikmal atau penyempurnaan Sya’ban 30 hari, sehingga puasa dimulai pada 18 Juni 2015,” ujarnya. [Ichwan/002]