Menag: Jangan Sampai Ada Pesantren Tutup Karena Ditinggal Pergi Kiai

0
805
Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifudin menyampaikan pidato dalam acara ‘Halaqoh Pengembangan Leadership Pimpinan Pondok Pesantren’ di Hotel Aston Semarang, Sabtu (13/6/2015). [Foto: Ceprudin]

Semarang, nujateng.com- Para kiai yang mengasuh pondok pesantren, pastilah sebagai pemegang otoritas penuh atas pondoknya. Tanggungjawabnya sebagai pemimpin bersifat hampir absolut karena beliau sendirilah pemilik pesantren. Hal itu memang menjadi ciri khas pesantren dan telah berlangsung beratus tahun berjalan.

Namun kewenangan tunggal pada kiai, seringkali menimbulkan masalah ketika sang pengasuh pesantren berhalangan tetap semisal sakit atau wafat. Banyak kejadian pesantrennya menjadi redup bahkan bubar karena tidak ada yang menggantikan peran sang kiai.

Karena itulah pesantren perlu menerapkan sebuah sistem yang memungkinkan kiai tidak memegang kendali penuh dalam semua urusan pesantren. Harus ada distribusi kewenangan, agar yang bekerja dalam pesantren adalah sistem pendidikan dengan segala perangkat spesialnya.

Dengan kata lain, kiai perlu mendelegasikan sebagian tanggungjawabnya kepada beberapa orang untuk menjalankan program pesantren, sehingga semisal sang kiai bepergian dalam waktu cukup lama, atau bahkan meninggal dunia, pesantren tetap eksis dan tidak kehilangan santri.

Demikian disampaikan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifudin dalam pidato pembukaan ‘Halaqoh Pengembangan Leadership Pimpinan Pondok Pesantren’ di Hotel Aston Semarang, Sabtu (13/6/2015).

“Kami di Kementrian Agama terus berupaya mengembangkan pondok pesantren di Indonesia agar bisa tetap lestari sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan. Karena itu jangan sampai ada pesantren yang redup atau tutup karena ditinggal pergi kiai,” tuturnya di hadapan pimpinan pondok pesantren se-Jawa Tengah.

Menag mengajak masyarakat pesantren untuk responsif terhadap perkembangan globalisasi, salah satunya pada aspek leadership dan manajemen. Menurutnya, halaqoh tersebut bukan memberi ‘pelatihan kepemimpinan’ kepada para kiai. Tetapi mendiskusikan perlunya menerapkan manajemen dalam kepemimpinan di pondok pesantren.

“Para kiai itu para pemimpin yang sangat terhormat. Kiai adalah panutan umat, mana berani saya melatih kiai. Halaqoh ini untuk mendiskusikan perlunya manajemen dalam pesantren,” tuturnya dibumbui nada canda.

Kontribusi Pondok Pesantren

Dikatakan Menag, kontribusi pesantren terhadap bangsa sangat besar, bahkan sejak zaman pra kemerdekaan. Keberadaan lembaga pendidikan pesantren sebagai jantung pendidikan keagamaan yang sudah berkontribusi besar bagi negeri tercinta.

Putra Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri itu menceritakan, buku karya ayahnya yang berjudul ‘Guruku  Orang-orang dari Pesantren’ berisi catatan perjuangan pesantren dalam membangun bangsa.

Selain itu, tuturnya, pada 1978-1980 an, muncul gerakan pondok pesantren yang dimotori oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berupaya memperkenalkan pesantren hingga ke dunia luar.

“Saya termasuk yang ikut dalam kumpulan itu,” kata Menag.

Didampingi Setditjen Pendis Ishom Yusqi, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Mubarok, dan Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah Ahmadi,  Menag menyampaikan pentingnya up date manajemen pondok pesantren karena dinamika masyarakat begitu tinggi.

Menurutnya, keluarga besar pondok pesantren harus bisa merespon ekspektasi atau harapan masyarakat yang terus berkembang seiring perubahan zaman.

“Apapun coraknya, pengembangan manajemen pondok pesantren sangat penting, karena tantangan itu juga semakin kompleks,” jelasnya. [Ichwan/002]