Kang Said: Pesantren NU Ajarkan Lemah Lembut

0
745
[Foto: Lukman Hakim]

Pekalongan, nujateng.com- Liberalisasi ideologi dinilai berbahaya. Penilaian itu disampaikan Ketua PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj, di sela-sela dialog bersama Pengurus Cabang NU Kabupaten Pekalongan dan peresmian Gedung NU, Jumat (29/5).

“Kita sekarang hidup di era liberal. Tepatnya liberalisasi informasi, sampai-sampai dunia makin kecil dengan teknologi informasi. Tidak ada lagi bisa ditutupi, semua bisa diketahui. Ada tiga macam bentuk liberalisasi, ada liberalisasi informasi, investasi, dan ideologi,” katanya.

Menurut kiai yang akrab disapa Kang Said itu, saat ini semua informasi, baik ekonomi maupun politik, bisa diketahui melalui teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi memang banyak baiknya, tapi keburukannya juga tak kalah lebih banyak. Salah satu manfaatnya adalah perpustakaan tidak perlu lagi dengan rak-rak buku yang luas, tapi cukup dengan flash disk bisa menyimpan ratusan buku. Keburukannya juga tak kalah banyaknya, di antaranya adalah prostitusi online dan penipuan. Kemudian liberalisme investasi. Semua investasi di Indonesia tidak dibatasi atau tidak disaring. Tapi, lanjut dia, yang paling bahaya adalah liberalisasi ideologi. “Orang asing bisa mendirikan masjid, musholla dan pondok pesantren di Indonesia secara bebas, tapi di Arab Saudi tidak demikian. Makanya jangan heran jika ada pesantren yang ketika santrinya lulus tidak pandai dalam penguasaan kitab klasik Islam tapi justru mahir merakit bom,” ujarnya.

Kondisi demikian berbeda dengan pesantren NU. Di Indonesia terdapat 23.000 pesantren yang berkultur NU, tidak satu pun santrinya terlibat teroris. Sebab, di pesantren NU, kiainya mengajarkan saling menghormati, sikap lemah lembut dan pengetahuan kitab klasik Islam. “NU memegang prinsip tawasuth atau moderat. Artinya tidak ekstrem kiri atau kanan. Investasi pasti membawa dampak positif, dampak negatifnya jangan diambil. Untuk itu cara mengatasinya adalah pertahanan diri harus kuat serta tidak tergantung dengan luar negeri,” sambungnya.

Digarap serius karena itu, salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan kepada investasi luar negeri sektor pertanian perlu digarap serius. Bagi warga nahdliyin, apabila sektor pertanian seperti beras, jagung dan lainnya tergarap maksimal mungkin sebagian persoalan teratasi.

Gedung Baru

Sementara itu, pembangunan Gedung NU Kabupaten Pekalongan yang berlokasi di Desa Karangdowo, Kecamatan Kedungwuni menghabiskan dana Rp 2,3 miliar. Demikian disampaikan Ketua Panitia Pembangunan, Makhrus. “Pelaksanaan pembangunan gedung NU dimulai tahun 2011-2015. Total pengeluarannya sekitar pengeluaran Rp 2,3 miliar,” paparnya.

Sambutan Bupati Pekalongan Amat Antono, apakah gedung itu berfungsi sebagai peneduh atau inspirasi. Menurut dia, proyeksi BPS pada 2035 penduduk Indonesia 306 juta. Usia produktif mencapai 64 persen atau mendapatkan bonus demografi, pertumbuhan ekonomi mestinya bagus, seperti yang terjadi di Tiongkok dua dan Brasil angka pertumbuhannya mencapai dua digit. Pertanyaanya adalah NU siap atau tidak? NU itu organisasi besar meski sumbangsih kepada Indonesia juga besar. Karena itu, untuk menghadapi hal tersebut, bidang pendidikan dan kesehatan harus digarap. “Saya harapkan NU bisa menjadi rujukan dan pengayom masyarakat. Dan memberikan sumbangsih besar kepada bangsa Indonesia,” harapnya. [Lukman Hakim/002]