Lewat Sadranan, Ingat Mati dan Berbagi

0
1000
Tradisi Sadranan di Dukuh Tompak, Tarubatang, Selo, Kabupaten Boyolali (9/6). [Foto: Ajie Najmuddin]

Boyolali, nujateng.com– Menjelang bulan puasa Ramadlan, ratusan warga Dukuh Tompak, Tarubatang, Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menggelar tradisi sadranan untuk mendoakan para leluhur, Selasa (9/6).

Sadranan di Desa Tompak termasuk yang paling awal dilakukan masyarakat di lereng Merapi-Merbabu tahun ini.

Sejak pagi, ratusan warga dari dukuh Desa Tompak serta warga dari daerah lain yang memiliki leluhur dimakamkan di pemakaman tersebut, berbondong-bondong ke permakaman yang terletak di sisi timur lereng Gunung Merapi tersebut.

Bersama keluarga dan sanak saudaranya, warga berdatangan ke areal pemakaman dengan membawa tenong, yang berisi tumpeng nasi rasul dan aneka jajan seperti ketan, apem dan pisang.

Bagi warga setempat, tradisi nyadran ini selain menjadi agenda untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal, juga sebagai ajang silaturahim. “Kegiatan ini juga memiliki pesan moral, yakni ajaran untuk saling berbagi antara satu dengan lainnya,” kata Syahirul Alim, salah satu tokoh pemuda setempat.

Usai melakukan doa bersama yang diisi dengan pembacaan yasin, zikir dan tahlil di areal pemakaman, warga kemudian saling berbagi makanan yang mereka siapkan dari rumah.

“Meski prakteknya sudah agak berbeda, dengan zaman saya kecil dulu, tapi pesan utamanya tetap dipegang teguh masyarakat, yakni untuk berbagi apa yang kita punyai serta bersyukur atas ni’mat dari Allah,” tutur Syahirul yang juga aktif di JQH PCNU Boyolali itu. [Ajie Najmuddin/002]