Gus Ubed: Pondok Pesantren Berdiri Karena Simpati Masyarakat

0
1419
KH Ubaidullah Shodaqoh (kiri) menyampaikan materi dalam acara ‘Halaqah Pengembangan Leadership Pimpinan Pondok Pesantren’ di Hotel Aston Semarang, Sabtu (13/6). [Foto: Ceprudin]

Semarang, nujateng.com- Sekarang banyak orang menyebut pondok pesantren hanya menyebutkan kata pesantrennya saja, tanpa menyebut kata pondok. Padahal kata pondok dalam rangkaian kata ‘pondok pesantren’ memiliki kandungan makna tersendiri, yaitu sebagai lembaga pendidikan yang memegang nilai-nilai tradisional dan sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia.

Hal ini disampaikan Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh, dalam acara ‘Halaqah Pengembangan Leadership Pimpinan Pondok Pesantren’ di Hotel Aston Semarang, Sabtu (13/6).

Dalam acara yang digelar selama 3 hari itu (12-14/6), Kiai Ubaid menuturkan, akibat dari penghapusan kata pondok, muncul beberapa pesantren yang memiliki ideologi bertentangan dengan NKRI.

“Pesantren-pesantren sekarang akhirnya namanya Pesantren Abi Thalib, Pesantren Abi Bakar, dan yang lainnya. Pesantren-pesantren yang demikian tidak memiliki nilai-nilai yang dikandung dalam kata pondok,” paparnya.

Simpati Masyarakat

Pengasuh pondok pesantren Al-Itqon Bugen Semarang itu, menceritakan, bahwa cikal bakal pondok pesantren yang didirikan oleh kiai-kiai zaman dahulu bermula dari simpati masyarakat terhadap ilmu para kiai. Di antara para pendiri pondok pesantren saat mudanya tidak ada satu pun yang memiliki cita-cita ingin menjadi kiai atau pengasuh pondok pesantren. Niat para kiai hanya belajar untuk mengajarkan ilmu.

“Lalu, masyarakat simpati dan akhirnya memerintah anaknya untuk belajar kepada kiai. Karena rumah santri jauh, akhirnya kiai membangun kamar atau asrama untuk tempat tinggal para santri supaya tidak usah pulang pergi,” terangnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, pondok pesantren kini memiliki beragam model pendidikan, ada yang menyediakan sekolah formal, ada yang hanya mengaji kitab kuning, dan yang lainnya. Karenanya kiai yang akrab disapa Gus Ubed itu, berpesan supaya inti dari pondok pesantren jangan sampai hilang, yaitu belajar dan mengajarkan ilmu agama secara mendalam.

“Pondok pesantren adalah sarana belajar mengajar. Perkembangan zaman ini tidak boleh meninggalkan yatafaqqahhu fid din (belajar agama dengan mendalam, red),” tandasnya. [AR/002]