Diskusi Bulanan Lakpesdam Bedah Sejarah Sosial Kudus

0
828
Peserta sedang mengikuti diskusi Perubahan Sosial dan Kehidupan Keagamaan di Kudus Awal Abad XX. [Foto: Mustaqim]

Semarang, nujateng.com- Mahasiswa Magister Ilmu Sejarah Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Makrus Ali, mengurai kehidupan sosial-keagamaan di Kabupaten Kudus pada abad 20 an. Ia menyampaikan sisi lain dari kehidupan masyarakat Kudus. Masyarakat Kota Kretek yang sekarang damai, ternyata pernah melewati gejolak ekonomi, sosial dan politik yang tak jarang berakhir dengan kekerasan.

“Persinggungan politik pernah terjadi pada tahun 1918 antara warga Pribumi dan Tionghoa. Pemicunya, warga Tionghoa melakukan arak-arakan melewati Menara di Masjid Agung Kudus. Pada acara itu ada adegan yang dianggap memicu kemarahan warga Muslim,” paparnya, pada diskusi bulanan, Pengurus Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Jumat (29/5/15) di Kantor eLSA, Semarang.

Ketika itu, lanjut Makrus, adegan yang dianggap provokatif oleh sebagian kaum Muslim, karena terdapat seorang warga Tionghoa yang mengenakan pakaian layaknya seorang haji yang ditemani beberapa perempuan. Adegan itulah yang akhirnya menimbulkan konflik yang cukup menyita perhatian publik pada masa itu.

Pada abad itu, tradisi kepercayaan Tionghoa masih sangat kental. Arak-arakan itu, merupakan adat warga Tionghoa untuk mencegah wabah penyakit influensa yang diderita warga Kudus. Namun, katanya, kejadian itu hanya sebuah pemicu konflik di permukaan. Karena ada yang menilai bahwa konflik itu sejatinya diakibatkan karena adanya ketimpangan ekonomi.

“Sejak abad awal 20-an, Kota Kudus sudah banyak memproduksi kretek, hingga sekarang disebut sebagi kota kretek. Bukan hanya orang-orang pribumi yang memproduksi rokok, beberapa diantaranya adalah pengusaha Tionghoa. Persaingan ini berimbas pada kehidupan sosial, politik dan agama, antara pribumi dan warga Tionghoa,” sambungnya.

Sebagai pengantar, Makrus menggambarkan mengenai kehidupan sosial warga Kudus dan Tionghoa. Ia mengungkap Mesjid Menara Kudus dengan sejarah kehidupan beragama yang saling menghormati. Sebagai bukti, adanya dua ciri khas dari keagamaan dan penghormatan agama dengan agama yang lain. Salah satunya adalah larangan menyembelih sapi yang disucikan menurut agama lain.

Diskusi ini dihadiri sekitar 20 orang mahasiswa, termasuk mahasiswa asal Korea Selatan, Park Hee Choul yang rutin hadir saat diskusi di kantor eLSA. [Mustaqim/001]