Agus Salim: Novelis dan Pegiat Sosial

0
1073
H. Agus Salim Chamidi memegang salah satu novel hasil karyanya. [Foto: T-Kh]

Kebumen, nujateng.com- “Saya ingin mengisi ruang di NU (Nahdlatul Ulama) yang selama ini belum banyak diminati orang,” kata laki-laki paruh baya itu, sembari menyeruput kopi hitam favoritnya. Satu batang rokok produk lokal ia keluarkan dari bungkusnya. Kunci mobil bututnya ia taruh dekat gelas kopi. Sejenak ia berdiri merogoh saku untuk mengambil korek api gas. Dibakarnyalah rokok yang sudah pasrah dimangsa api. Kepulan asap rokoknya bertautan dengan teriknya matahari siang itu.

Haji Agus Salim Chamidi, nama lelaki tersebut. Rambutnya sudah banyak yang memutih. Usianya hampir mendekati kepala lima. “Kiye wis pada putih kabeh rambute,” katanya. Meski demikian, nalurinya masih seperti anak muda. Semangatnya apalagi. Ngenomi, orang Jawa bilang.

Agus Salim adalah sebagai Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kebumen. “Padahal lama saya tiarap. Baru periode ini masuk dalam struktur NU,” kata alumnus Ilmu Budaya, Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta kepada nujateng, Selasa (9/6).

Sekilas, tak banyak yang mengira jika pria dengan perawakan tinggi kurus itu adalah seorang penulis novel yang produktif. Tapi bukan kemampuan menulis saja yang menarik. Pria dengan nama pena HAS Chamidi itu juga tak sungkan untuk bergaul dengan banyak kalangan. Bahkan dengan komunitas pinggiran pun ia sambangi.

Kesan pertama yang tertambat di pria yang mengabdikan diri di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) ini adalah periang, cepat bergaul dan murah senyum. Wajar jika kemudian Agus menjadi sangat mudah berkomunikasi dengan siapapun. Ia bak jembatan yang menyambungkan generasi muda dan generasi sepuh di NU.

Agus Salim alias HAS Chamidi adalah seorang novelis yang ingin istiqamah dalam sastra genre pesantren. Beberapa novel yang sudah diterbitkan antara lain Pesantren Undercover: Cinta di Pesantren Alaswangi, Wali China, dan Alaswangi. Konsistensinya untuk terus menulis sastra ini menunjukan bahwa ia berkehendak kuat untuk membedah kedalaman dunia pesantren.

Lahir di Kebumen 2 Februari 1966, Agus tak hanya menjadi pengajar dan penulis. Pria yang kemana-mana selalu mengenakan peci hitam itu juga seorang aktivis sosial. Agus tak sungkan untuk keluar masuk sosialisasi, mengobrol dengan mereka yang ada disana. Hal yang pastinya masih sangat tabu dilakukan oleh sebagian besar kalangan. “Saya hanya melihat sisi kemanusiaannya. Mereka juga manusia dan harus kita manusiakan,” ujarnya ketika berkomentar soal lokalisasi dan perempuan-perempuan yang “bekerja” di sana.

Salah satu karyanya yang berupaya merespon persoalan sosial adalah Surga untuk ODHA. Novel ini berupaya merespon persoalan HIV/AIDS, tetapi tetap dengan genre pesantren yang menjadi kekhasan goresan Agus. Pengajar Filsafat Ilmu di Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen itu mengatakan kalau karya itu mencoba meramu nilai-nilai yang muncul dari pesantren tradisional berupa hasil bahtsul masail diniyah dengan realitas sosial merebaknya HIV/AIDS di tengah masyarakat. Ramuan ini ia suguhkan dalam bentuk penceritaan yang mengalir sehingga lebih enak untuk dinikmati.

Agus meyakini bahwa masih banyak yang belum tergali dari dunia pesantren, terutama dari aspek seni dan sastranya. Banyak karya yang belum tersaji ke permukaan. “Sekarang, mulai muncul banyak sastrawan-sastrawan dari bilik pesantren, dan ini adalah perkembangan yang sangat menggembirakan,” katanya optimis. [T-Kh/001]