Utbah bin Ghuzwan dan Asketisme

0
3515
[Foto: deyaa-eldeen.blogspot.com]

Oleh: KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Lc*

الحمد لله الذي عمت آلاؤه جميع مخلوقاته. فأبى أكثر الناس إلا كفورا. ونصب من الآيات الباهرات ما دل على وحدانيته فعميت بصائر الكافرين والمنافقين فما زادتهم إلا نفورا. وبصّر المؤمنين في التفكير في آياته فأشرقت قلوبهم بالإيمان به منا وتيسيرا

أحمده سبحانه حمد عبد عرفه حق معرفته. وأشكره شكرا كثيرا. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله بالحق بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه ومن تعبهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا

أما بعد فيا أيها الناس اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Tersebutlah kisah bahwa suatu malam, Sayidina Umar bin Khattab berangkat tidur untuk sejenak beristirahat dari penatnya tugas keseharian sebagai seorang Khalifah. Tetapi ternyata mata Sayidina Umar seperti enggan untuk dipejamkan barang sejenak. Fikiran Umar terus berputar memikirkan nasib tentara muslim yang tengah berperang di medan laga melawan tentara Persia di sekitar perbatasan Irak.

Apalagi Umar baru saja mendapat laporan bahwa setiap kali tentara muslim berhasil memukul telak kekuatan Persia, setiap kali pula tentara Persia berhasil menyusun kekuatan kembali karena mereka terus mendapat tambahan pasukan dan logistik dalam jumlah besar melalui sebuah daerah yang bernama Al-Ubullah.

Maka Sayidina Umar pun berfikir keras untuk memotong jalur bantuan kepada tentara Persia dengan berupaya menguasai daerah Al-Ubullah itu. Namun Sayidina Umar berhadapan dengan kenyataan bahwa di Madinah saat itu hanya tersisa tentara muslim dalam jumlah yang sangat sedikit dan peralatan perang seadanya.

Umar terus berfikir dan berfikir hingga benar-benar tak mampu untuk sejenak beristirahat malam itu. Namun beberapa saat kemudian, Sayidina Umar menarik nafas panjang dan mengucap Al-hamdulillah karena beliau berhasil menemukan sebuah strategi dan sekaligus orang yang akan dipercayainya untuk melaksanakan strateginya itu.

Umar berkata dalam hatinya, “tentara dalam jumlah kecil dan peralatan sederhana harus diimbangi dengan seorang komandan yang cerdik, kuat, kokoh kepribadiannya dan kapabel”. Maka dipilihlah salah satu sahabat yang bernama Utbah bin Ghuzwan untuk memimpin misi melumpuhkan kota Al-Ubullah sebagai jalur pasokan logistik tentara Persia.

Hadirin Rahimakumullah

Keesokan harinya ketika melepas tentara pimpinan Utbah, Umar berpesan kepada Utbah, “Wahai saudaraku kalian akan melakukan tugas yang sungguh berat. Kalian hanya berjumlah 300 personel lelaki dan beberapa puluh wanita. Sedangkan daerah yang akan kalian taklukkan telah dikuasai oleh ribuan tentara musuh. Maka gunakanlah kecerdikan akal kalian dan berhati-hatilah dari godaan duniawi!”

Mendengar pesan Umar ini, sejumlah Sahabat bertanya-tanya dalam hati mereka, “Mengapa kali ini untuk urusan perang, Umar berpesan agar berhati-hati dari godaan duniawi?” Tetapi pertanyaan seperti itu mereka simpan dalam hati mereka. Dan ternyata pesan Umar inilah yang kelak di kemudian hari akan menjadi tonggak peristiwa penting bagi Utbah bin Ghuzwan. Seolah-olah Umar mendapat ilham dari Allah untuk memberikan pesan yang agak aneh seperti itu jika dilihat dari latarbelakang persoalan perang.

Hadirin Rohimakumullah

Berikutnya, Utbah bin Ghuzwan dengan diiringi sekitar 300 tentara dari kaum lelaki dan beberapa puluh kaum wanita berangkat ke daerah Al-Ubullah. Setibanya di sana, Utbah mempelajari kondisi geografis daerah sekitar untuk menentukan strateginya. Maka dirancanglah strategi berikut: yaitu 300 pasukan kaum lelaki maju dengan persenjataan seadanya. Sedangkan puluhan wanita berada di front belakang masing-masing bertugas membawa dua bendera sambil berlari-lari kecil ke kanan dan ke kiri untuk mengepul-ngepulkan debu supaya terlihat oleh musuh bahwa di belakang 300 pasukan muslim itu masih terdapat banyak pasukan dukungan.

Benar saja. Strategi cerdik itu kemudian membuat pasukan Persia ketakutan dan lari meninggalkan daerah Al-Ubullah hingga lumpuhlah kekuatan mereka. Berikutnya tentara kaum muslimin berhasil menguasai Al-Ubullah dengan tanpa setetespun darah terkucur. Dan ketika mereka memasuki Al-Ubullah, mata mereka terbelalak menyaksikan kesuburan dan kekayaan daerah tersebut yang sangat melimpah ruah. Mereka juga menemukan emas permata dalam jumlah yang sangat besar dan juga mereka mendapati makanan-makanan aneh dari hasil bumi. Dan inilah untuk pertama kalinya kaum muslimin Arab mengenal beras.

Melihat kemewahan seperti itu, Utbah serta merta berpesan secara tegas kepada seluruh tentara muslim untuk tidak tergoda oleh kemewahan duniawi. Seraya ia juga berkata, “Barangsiapa tidak mengindahkan pesan Umar sebelum kita berangkat ke sini, maka ia harus berhadapan denganku!”

Hadirin Rohimakumullah

Berikutnya Utbah kembali ke Madinah untuk melaporkan hasil kemenangan itu kepada Sayyidina Umar. Dan Umar pun menerima kabar gembira itu dengan penuh suka cita dan bersyukur. Kemudian Umar berkata, “Kalau begitu aku angkat engkau wahai Utbah sebagai pemimpin di Al-Ubullah!”. Mendengar ini, Utbah menangis tersedu-sedu dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah Anda tega melemparkanku ke lembah kemewahan duniawi seperti itu?” Umar menimpali, “Justru karena kamu menganggap kemewahan itu laksana jurang kehinaan, maka aku percaya kepadamu!”. Utbah menimpali lagi, “Tetapi Paduka Umar, aku ketakutan jika diriku terperosok ke dalamnya. Aku khawatir nafsuku menggelora karena bergelimang harta. Aku takut diriku terlena!”

Hadirin Yang Berbahagia

Setelah berdialog beberapa lama, akhirnya Utbah melaksanakan perintah Umar untuk menjadi pemimpin di Al-Ubullah dengan hanya satu alasan yaitu taat dan patuh kepada Umar sebagai Khalifah, meskipun Utbah sendiri sangat keberatan. Maka sebelum ia berangkat ke Al-Ubullah, Utbah berdoa dengan menangis tersedu-sedu, “Wahai Allah janganlah Engkau jadikan aku terperosok ke jurang kemewahan dunia itu!”

Tak berselang lama, di tengah-tengah perjalanan ke Al-Ubullah, Utbah mengalami kecelakaan maut. Kudanya terperosok ke sebuah jurang hingga Utbah wafat. Nampaknya doa Utbah terkabul. Ia tidak jadi terperosok ke dalam jurang kemewahan di Al-Ubullah, meskipun ia memang terperosok ke sebuah jurang sungguhan hingga merenggut nyawanya. Tetapi itulah jurang yang mengantarkan Utbah ke surga Allah. Walillahil Hamdu min qoblu wa min ba’du.

Hadirin Yang Berbahagia

Menyimak kisah Utbah bin Ghuzwan itu, patut sekali kita merenung secara lebih mendalam. Kita amati bagaimana Utbah yang merasa sangat khawatir akan terperosok ke dalam jurang kemewahan dunia, padahal Utbah adalah salah satu sahabat terbaik Nabi. Ia terdidik oleh nilai-nilai kesederhanaan yang sempurna dari diri Baginda Rasulillah Saw. Ia tidak pernah merasakan kemewahan sedikitpun selama hidupnya hingga ia justru khawatir jika kekuasaan di tangannya nanti akan mudah membuatnya terlena dalam kemewahan dunia.

Memang benar, bahwa Allah tidak pernah mengharamkan kita menikmati karunia-Nya di bumi ini. Allah berfirman;

قل من حرم زينة الله التي أخرج لعباده والطيبات من الرزق، قل هي للذين آمنوا في الحياة الدنيا خالصة يوم القيامة، كذلك نفصل الآيات لقوم يعلمون

Katakanlah wahai Muhammad: siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik? Katakanlah bahwa semuanya itu disediakan bagi orang-orang yang beriman di dunia ini (dan juga selain orang yang beriman) (tetapi hal itu) khusus untuk mereka saja nanti di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

Sebagaimana juga memang benar bahwa pengertian Zuhud atau sikap asketis yang hakiki faqdu ‘alaqotil qolbi bil mâli wa laisa faqdal mâli. Artinya bahwa zuhud itu adalah tidak adanya ketergantungan hati akan harta benda meskipun harta benda itu melimpah ruah kita miliki. Harta itu hanya di tangan bukan di hati dan fikiran. Namun jika kita melihat klasifikasi kaya-miskin dan syukur-kufur, maka kita temukan pembagian berikut ini: kaya dan bersyukur, kaya tetapi tidak bersyukur, kemudian miskin tapi bersyukur dan miskin tetapi tidak bersyukur. Dari empat bagian ini, yang paling sempurna adalah miskin tapi bersyukur.

Dari uraian ini, kita juga bisa memahami, bahwa manusia itu ada tingkatan-tingkatannya, mulai yang terendah hingga yang tertinggi. Yang terendah adalah yang kaya tapi tidak bersyukur, kemudian yang miskin tapi tidak bersyukur, lalu kaya dan bersyukur dan yang paling tinggi adalah miskin tapi tetap bersyukur.

Hadirin Rohimakumullah

Kembali kepada kisah Utbah bin Ghuzwan, kita bisa menyimpulkan bahwa ia berkeinginan untuk tidak bergelimang kemewahan dan karena Allah telah memilihnya sebagai salahsatu hamba-Nya yang terbaik, maka Allah mengabulkan doanya hingga ia wafat sebelum ia merasakan kemewahan kota Al-Ubullah yang melimpah ruah.

Yang jelas, hidup ini adalah pilihan. Kita boleh memilih untuk berdoa supaya kaya dan tetap bersyukur dan kita juga bisa memilih seperti Utbah yaitu miskin dan tetap bersyukur. Dalam hal ini, meskipun kesemuanya itu adalah pilihan. Namun kita yang dikaruniai akal ini sudah semestinya bisa memilih mana yang terbaik dan mana yang kurang sempurna.

Nabi Saw bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِن، إِنَّ أَمَرَهُ كُلّه خَيْر، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاء فَشَكَرَ اللَّه فَلَهُ أَجْر، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاء فَصَبَرَ فَلَهُ أَجْر، فَكُلّ قَضَاء اللَّه لِلْمُسْلِمِ خَيْر

Sungguh takjub perkara orang mukmin itu. Semua keadaan baik maupun buruk selalu dilihat segi positifnya.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم. ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم

وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين

======

Khutbah II

الحمد لله المنعوت بصفات التنزيه والكمال. وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ثني الخصال. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصبحه والتابعين. عباد الله اتقوا الله فإنكم عليه تعرضون. واعلموا أن الله صلى على نبيه في كتابه المكنون وأمركم بذلك فأكثروا من الصلاة عليه تكونوا من الفائزين. اللهم صل وسلم عليه وارض عن الأربعة الخلفاء، وبقية العشرة الكرام وآل بيت نبيك المصطفى. وعن الأنصار والمهاجرين والتابعين إلى يوم الدين

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات رب العالمين. ونسألك اللهم دوام العناية والتأييد، لحضرة مولانا سلطان المسلمين المؤيد بالنصر والتمكين. اللهم انصره وانصر عساكره وامحق بسيفه رقاب الطائفة الكافرة، وأيد بسديد رأيه عصابة المؤمنين. واجعل بفضلك هذا البلد آمنا مطمئنا. وارفع اللهم مقتك وغضبك عنا. ولا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا يا أرحم الراحمين

اللهم إليك نسأل فلا تخيبنا، وإليك نلجأ فلا تطردنا، وعليك نتوكل فاجعلنا لديك من المقربين. إلهي هذا حالنا لا يخفى عليك. فعاملنا بالإحسان إذ الفضل منك وإليك. واختم لنا بخاتمة السعادة أجمعين

عباد الله  إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر

*Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jawa Tengah