Menag: Pesantren Tumbuhkan Nasionalisme

0
670
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.[Foto: www.kemenag.go.id]

Jakarta, nujateng.com- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (LHS) berharap, peluncuran buku ‘KH Saifuddin Zuhri: Mutiara Dari Pesantren’ karya Rohani Shidiq, mampu menjadi motivasi dan inspirasi untuk terus menjaga dan memelihara persaudaraan sebagai sesama anak bangsa, dan berkesadaran penuh untuk menjaga keutuhan NKRI yang majemuk, dengan spirit Islam Nusantara yang sejuk dan damai.

“Melalui peluncuran buku ini, semoga masyarakat kita, dari Sabang hingga Merauke termotivasi dan terinspirasi. Karena buku ini mengangkat tema tentang pendidikan pesantren yang menyadarkan, bahwa sesungguhnya kita memiliki nilai-nilai berharga yang mampu dijadikan sebagai referensi untuk memajukan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa kita,” tuturnya dalam acara Seminar dan Bedah Buku dengan tema “Berguru Islam Nusantara dari KH Saifuddin Zuhri” di Aula Institut PTIQ Jakarta, Rabu (20/5).

Menag sangat mengagumi dua buku karya almaghfurlah, yakni ‘Guruku Orang-Orang dari Pesantren’ dan ‘Berangkat dari Pesantren’. “Dari dua buku tersebut, sangat terlihat kecintaan dan ketaatan almaghfurlah terhadap pesantren tidak bisa dipisahkan. Dan jika kita mencermati pesantren-pesantren, baik yang berada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara maupun daerah lain di Indonesia, ada beberap ciri khas pokok yang dimiliki oleh pesantren, yakni: Pertama, Islam yang moderat, dimana perbedaan dilihat sebagai hal untuk saling melengkapi, menghormati, melengkapi dan menyempurnakan; Kedua, dalam pesantren ada nilai-nilai toleransi yang dijunjung tinggi, di mana dikedepankan saling menghormati dan menghargai tanpa harus mengurangi keyakinan masing-masing; Ketiga, adanya cinta tanah air. Dan jika ada pesantren tidak mempunyai 3 ciri di atas, maka kita layak waspada,” tegasnya.

Menag menilai, pendidikan pesantren adalah mutiara terpendam yang tak pernah lekang. “Pendidikan pesantren adalah pendidikan khas Indonesia yang tak lekang oleh panas dan lapuk oleh waktu. Mampu memberi peran dan sumbangsih serta pengabdian kepada bangsa ini,” jelasnya.

Lebih jauh Menag memaparkan bahwa telah dibuktikan oleh sejarah, pesantren berperan penting dalam perjalan bangsa, mampu menjadi pusat penyebaran Islam dengan membawa cara hidup baru yang membebaskan. Pesantren juga mampu menumbuhkan patriotisme dan nasionalisme, memberi pengayaan nilai agama pada paham politik modern, seperti demokrasi dan sosialisme. “Lihatlah, semasa revolusi, para ulama pesantren ikut mengangkat senjata tan mendirikan NKRI,” terangnya.

Selain itu, dalam pengamatan Menag, pesantren juga mampu menjadi elemen vital ketika kekuasaan politik Islam hancur oleh adu domba kolonial. “Meski kekuasaan politik Islam berakhir, namun kekuatan umat Islam tidak ikut sirna. Semua ini tidak lepas dari peran para ulama. Dan meski pendidikan pesantren dipinggirkan, namun mampu berperan sebagai oposisi yang signifikan. Pesantren mampu menjadi basis penyemaian semangat kebangsaan kaum muda dan menjadi pusat perlawanan di Nusantara. Lihatlah, Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari untuk jihad fi sabilillah dalam perang Surabaya, yang saking heroiknya, pada 10 November, kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Mutiara hikmah hubbul wathan minaliman (cinta tanah air sebagian dari iman, red), mampu menjadi landasan teologis yang meyakinkan, bahwa Islam dan nasionalisme tidak bertentangan, namun saling menguatkan,” paparnya.

Menag menambahkan, bahwa peran historis pesantren yang tak kalah penting, adalah kehadiran pesantren yang intens dalam proses pembentukan Islam Nusantara. “Islam Nusantara adalah salah satu kekayaan khazanah tradisi Islam yang dikembangkan oleh para ulama pesantren masa lampau. Islam disebarkan dengan jalan damai, tanpa kekerasan dan paksaan,” imbuhnya. [G-Penk/002]