Menag: Lewat Budaya, Islam Tersebar Dengan Damai

0
614
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. [Foto: www.liputan6.com]

Jakarta, nujateng.com- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyegarkan ingatan kaum muslimin Indonesia, bahwa di Indonesia ajaran Islam ditanamkan melalui perangkat budaya.

“Di negara tercinta ini, Islam disebarkan dengan jalan damai. Ajarannya ditanamkan melalui perangkat budaya, bahkan warisan agama lama dan kepercayaan yang ada, dilestarikan. Kemudian dibersihkan dari unsur-unsur syiriknya yang dalam ushul fiqh disebut: al-‘adah muhakkamah (adat yang ditetapkan sebagai hukum). Wayang misalnya, adalah bagian dari ritual agama yang politheis, namun mampu dirubah menjadi sarana dakwah dan pengenalan ajaran monotheis. Ini adalah sesuatu kreativitas yang luar biasa, sehingga seluruh lapisan masyarakat, mulai dari petani, pedagang hingga bangsawan, di-Islamkan melalui jalur ini. Mereka merasa aman dengan hadirnya Islam, karena hadir tanpa mengancam tradisi, budaya dan posisi mereka” paparnya saat memberi sambutan pada Seminar dan Peluncuran Buku “KH Saifuddin Zuhri: Mutiara Dari Pesantren” Karya Rohani Shidiq, “Berguru Islam Nusantara dari KH Saifuddin Zuhri” di Aula Institut PTIQ Jakarta, Rabu (20/5).

Putra Menag KH Saifuddin Zuhri juga mengurai, bahwa Islam di Nusantara, madzab yang dikembangkan, khususnya dalam beristimbath tentang Islam, dari dalil-dalilnya disesuaikan dengan teritorial, kondisi alam, dan cara pengamalannya oleh penduduk setempat.

“Misalnya ketika para Ulama kita melaksanakan perintah zakat fitrah. Dalil-dalil dari Arab menunjuk gandum, namun ulama kita menerjemahkannya menjadi beras. Artinya, semua kekayaan alam Indonesia, baik alamnya, airnya, lautnya, tanahnya, kulturnya, peradabannya, mampu menjadi sumber inspirasi bagi para ulama untuk memberi warna terhadap Islam. Dalam ushul fiqh dikenal: istinbathul ahkam asy-syar’iyah min adilattiha at-tafshiliyyah (menggali hukum dari dalil-dalilnya yang terperinci, red). Bisa dikatakan, bahwa proses pengislaman budaya Nusantara oleh para ulama terdahulu kita, dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya melebur menjadi entitas baru yang kemudian kita kenal sebagai Islam Nusantara,” jelasnya.

Pria kelahiran 25 November 1962 itu melihat, tuntutan untuk menghadirkan kembali Islam yang damai, moderat, adil dan toleran, bukan karena kerinduan semata akan Islam Nusantara yang sejuk dan mendamaikan, tapi sudah merupakan kebutuhan, terutama semenjak nilai-nilai kenusantaraan kita, mulai terkikis oleh paham-paham baru yang meresahkan masyarakat.

“Islam Ahlussunnah wal jama’ah yang dibentuk oleh para ulama terdahulu, sesungguhnya kehadirannya dapat mengawal Indonesia tetap damai, utuh dan bersatu, dengan menangkal aksi-aksi kelompok intoleran yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa serta keutuhan NKRI,” tuturnya.

Sebelumnya, Menag meresmikan Ma’had al-Qur’an Institut PTIQ Jakarta yang ditandai dengan penandatanganan prasasti, didampingi Rektor Institut PTIQ Jakarta, Prof Dr Nasaruddin Umar. [G-Penk/002]