Konferwil Pagar Nusa Jateng Adem Ayem

1
983
Suasana Sidang Komisi Konferwil PSNU Pagar Nusa Jateng. [Foto: Ichwan]

Semarang, nujateng.com- Mungkin karena organisasi berisi para pendekar, Konferensi Wilayah II Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Tengah berlangsung adem-ayem saja. Tak ada kasak-kusuk pencalonan. Tak ada gerakan melobi peserta konferensi untuk mencari dukungan.

Barangkali itulah keunikan dunia Pencak Silat. Seorang  pendekar sudah pasti bisa mengetahui dan mengukur seberapa “kuat” pendekar lainnya, Meski tidak kenal dan tanpa bertatap muka sekalipun. Cukup dengan berjabat tangan, seorang pendekar pasti bisa merasakan di mana posisi dirinya di hadapan orang yang disalaminya.

Energi batin mereka menjadi pedoman bersikap, apakah dirinya sudah pantas mencalonkan diri atau belum. Pantas menjadi pemimpin atau tidak. Jika dirinya dirasa ada pendekar lain yang “lebih tinggi derajatnya”, maka yang lain cenderung tidak berani mencalonkan diri, atau setidaknya diam.

“Konferwil ini adem ayem saja. para peserta hanya ngobrol sambil lomba menghabiskan rokok. Hanya di sidang pleno saja serius. Selebihnya cuma guyonan dan saling memamerkan akik,” ujar Kang Lukman Muhajir, sekretaris PC PSNU Pagar Nusa Kota Semarang sambil tertawa.

“Konferwil di pendopo pondok begini, duduknya saja lesehan, paling enak ya merokok dan membahas akik,” sahut Rifai asal Klaten.

Hal senada disampaikan Gus Tomy, peserta asal Kendal. Pendekar muda ini mengaku tidak heran tradisi pemilihan ketua di organisasi Pagar Nusa. Sebab tidak ada model kampanye atau penggalangan dukungan seperti di organisasi lain.

Ia jelaskan, seorang pendekar, apalagi pendekar Pagar Nusa yang memiliki standar tinggi dalam olah spiritual, jelaslah memiliki akhlak di atas rata-rata orang biasa. Maka tak ada satupun yang memunculkan diri sebagi calon. Umumnya bersikap tawadlu’, merasa dirinya tidak mampu, dan mendorong pendekar lain yang maju.

“Pendekar Pagar Nusa itu standar akhlaknya sangat tinggi. Semuanya tawadlu’. Jangankan mencalonkan diri, disurung maju saja menolak dan mendorong orang lain yang maju,” ujarnya sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya seraya terkekeh.

Setali tiga uang ucapaan Ketua PSNU Pagar Nusa Jateng demisioner, Sulatin. Dia tertawa kala ditanya soal siapa yang sudah maju sebagai calon.

“Hahaha… saya babar blas tidak tahu siapa yang nyalon. Saya jadi ketua dua periode juga karena disurung-surung dan dipaksa oleh para pendekar senior yang rebutan menolak jadi ketua. Padahal saya ini bukan pendekar dan masih yunior. Hehehe…,” tandas insinyur yang selalu senyum dan tidak pernah bisa marah ini. [Ichwan/002]