KH Saifuddin Zuhri, Kiai Giat Membaca dan Menulis

0
951
[Foto: ptiq.ac.id]

Jakarta, nujateng.com- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (LHS), menilai Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Nasaruddin Umar, yang juga mantan Wamenag, dalam kapasitas keilmuan, kealiman dan kesalehan mendekati almaghfurlah KH Saifuddin Zuhri, mantan Menag lima periode yang juga ayahanda Menag LHS, ketimbang diri Menag.

“Pak Nasar lebih mendekati almaghfurlah ketimbang saya. Bahkan dalam beberapa hal, melebihi. Sebagaimana almaghfurlah, Pak Nasar juga produktif menulis.” Terang Menag LHS saat memberi sambutan pada Seminar dan Peluncuran Buku berjudul ‘KH Saifuddin Zuhri: Mutiara Dari Pesantren’ Karya Rohani Shidiq, “Berguru Islam Nusantara dari KH Saifuddin Zuhri” di Aula Institut PTIQ Jakarta, Rabu (20/5).

Hadir dalam Seminar tersebut, Dirjen Pendis, Kamaruddin Amin, Sesmen Khoirul Huda, Pengurus PB NU, Abdul Mun’im DZ dan lain sebagainya.

Menag menyatakan, merasa kehilangan ketika Pak Nasaruddin Umar harus kembali ke PTIQ. “Sejak Pak Nasar kembali ke PTIQ, saya merasa ada sesuatu yang hilang, karena beliau lebih senior dan alim. Keberadaan beliau saat bekerja sama dengan saya, sungguh sangat membantu,” kenang Menag saat menjadi Menag Kabinet SBY-Boediono, dimana saat itu Nasaruddin Umar menjadi Wamenag.

Dalam sambutannya Rektor Institut PTIQ Jakarta Nasaruddin Umar menyatakan, KH Saifuddin Zuhri karena kealiman dan kapasitasnya, dipercaya menjadi Menag 5 kabinet yang berbeda.

“Kabinet boleh berganti, namun Menagnya tetap Kiai Saifuddin Zuhri. Sesuatu yang sungguh luar biasa. Bahkan, disela-sela kesibukan beliau, masih saja beliau menelurkan karya, baik tulisan di Koran, maupun buku. Hal ini menjadi inspirasi tersendiri bagi saya. Menag yang sibuk saja masih sempat membaca dan menulis. Masak saya yang banyak waktu tidak bisa. Sejak saat itu, saya giat membaca dan menulis,” kenang mantan Wamenag itu, serius.

Rektor juga menyatakan, jauh sebelum ada Gus Dur, ide-ide KH Saifuddin Zuhri sudah muncul. “Bisa saja, ide-ide cemerlang Gus Dur salah satunya terinspirasi oleh almahgfurlah,” tuturnya.

Selain itu, lelaki kelahiran Sulawesi itu, juga bercerita tentang awal mula dan berkembangnya Institut PTIQ Jakarta yang kini dipimpinnya. [G-Penk/002]