KH Hasyim Muzadi: Zaman Akhir Kita Dihadapkan Pada Dua Pilihan

1
1043
Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi. [Foto: M Mudzakir Rois]

Sukoharjo, nujateng.com- Memasuki zaman akhir yang penuh goncangan seperti sekarang ini, manusia dihadapkan banyak ujian dan kesusahan yang banyak melanda dalam kehidupan. Hal terbaik untuk menghadapinya, yakni dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama.

Demikian disampaikan Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi saat mengisi mauidhoh hasanah pada Pengajian Akbar yang diselenggarakan Majelis Al-Hidayah di Solobaru Sukoharjo Jawa Tengah, Selasa (5/5) malam.

“Di dalam suasana masyarakat yang di dalam al-Qur’an disebutkan ma’isyatan donkan kehidupan yang sumpek. Jangankan kita yang masyarakat kecil, ternyata mereka yang besar juga luar biasa sumpek. Jadi semua merasa sumpek, dlohir dan batin,” kata Pengasuh Pesantren Al-Hikam itu.

Dalam kondisi tersebut, menurut Kiai Hasyim, manusia memiliki dua pilihan. “Saat seperti itu, kita hanya punya dua jalan. Jalan larut kepada zaman, akhirnya kita mencari kesenangan yang melawan Allah Swt atau memilih untuk mendapat Rahmat Allah,” tuturnya.

Dipaparkan, pada pilihan pertama, manusia mencari kesenangan semisal dengan minuman keras untuk menghilangkan sumpek dan narkoba untuk menghilangkan stres. “Katanya yang melakukan. Mengambil hak orang lain dan harta negara secara tidak sah. Itu jurusan yang nawaitu-nya untuk menghilangkan sumpek tapi salah jalan. Akhirnya, Allah memberikan
istidraj bukan rahmat,” terang Kiai Hasyim.

Menurut Kiai Hasyim, perbedaan antara rahmat dan istidraj adalah pada ketenangan. “Rahmat adalah sesuatu yang memberikan kita ketenangan, dekat kepada Allah dan sesama manusia, itu hawanya rahmat. Baik itu rahmat rezeki, ilmu, pangkat dan sebagainya,” ujar dia.

Sedangkan istidraj adalah orang yang mencari kesenangan dengan cara yang salah, bahkan memaksa untuk mendapatkan sesuatu dengan melanggar Allah. “Meski Allah tetap memberi karena sifat rahman,  tapi Allah tidak ridho atas pemberian itu, maka pemberian jusrtu menjadi malapetaka baru,” tambahnya.

Sebagai contoh atas istidraj, yang berakibat seperti orang alim mulai kehilangan kealimannya, banyak polisi disidik, dan hakim yang diadili. “Banyak orang besar jatuh mendadak, kemuliaan dalam satu hari berubah menjadi kehinaan. Itu adalah jalan yang salah. Mudah-mudahan kita yang berkumpul ini berada di jalan yang benar,” pungkasnya. [Ajie Najmuddin/002]