Kang Said: Selamatkan Demokrasi Dengan Perkuat Kewarganegaraan

0
831
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siradj. [Foto: Ferli HS]

Kendal, nujateng.com- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siradj menyatakan, bahwa kewargaan dalam rakyat Indonesia harus terus ditingkatkan mutunya. Menurutnya, Indonesia yang notabene dihuni oleh kelompok Civic-Islam, butuh warga (civic) yang kuat, berdaulat, mandiri dan cerdas.

“Untuk menjadi bangsa demokrasi yang kokoh maka dibutuhkan kewargaan dan kewarganegaraan yang bermutu. Partisipasi dalam pembangunan di segala bidang melalui musyawarah atau deliberasi menjadi penting. Pejabat negara perlu memberikan teladan dengan tindakan konkret menegakkan hukum, memeratakan ekonomi, menyediakan kenyamanan hidup dengan jaminan keamanan, dan tentu saja menyejahterakan rakyatnya,” tuturnya saat ditemui nujateng.com, seusai memberikan ceramah dalam acara Harlah NU ke 92 di GOR Bahurekso Kendal Jawa Tengah, Minggu (9/5/15).

Dalam penilaian Kiai yang akrab disapa Kang Said itu, selama ini warga atau dalam konsepsi keilmuan politik yang disebut civic belum begitu menampakkan hasil menjadi citizenship. Sebab menurutnya, masyarakat belum merasakan apa untungnya menjadi warga negara.

“Warga belum merasa memiliki kepemimpinan, bahkan sering belum merasa memiliki negara dalam artian yang melindungi, terlayani, dan hak-haknya di jamin. Motto kami melayani anda itu masih label. Karena itulah warga Indonesia juga belum merasakan adanya civic-nasionalisme-nya. Merasakan menjadi bangsa paling-paling saat tim nasional sepakbola bertanding,” ujarnya tertawa.

Terkait dengan demokrasi yang belum menyejahterakan rakyat dan hal tersebut terkait dengan umat Islam di Indonesia, Kang Said menyatakan agar kewargaan (civic) harus diterapkan dalam konteks nilai esensial, bukan label.

“Dalam Islam misalnya, konsepsi muwathonah atau istilah akademiknya Civic-Islam misalnya, penting memilih jalur dengan menekankan nilai-nilai kemajuan dalam diri manusia seperti kapasitas, profesionalitas, etos, etik, dan karakter. Nilai itu lebih penting dari pada label. Karena itu Civic-Islam juga harus menuju ke arah pembangunan manusia yang sadar sosial-politik dengan lepas label,” jelasnya.

Hal tersebut menurut Kang Said perlu ditekankan karena dalam ajaran Islam, urusan politik tidak detail membakukan secara eksak urusan-urusan kemasyarakatan. “Islamnya penting sebagai nilai, identitas (Islam)nya tidak penting. Karena itu, civic yang kita inginkan adalah civic yang bernafaskan kemajemukan, keadilan, kesetaraan, kesejahteraan dan meningkatkan derajat martabat hidup manusia yang manusia itu selalu menuju pada upaya untuk kemanusiaan dan rahmat semesta alam,” pungkasnya. [Ferli HS/002]