Kang Said: Saatnya Indonesia Jadi Kiblat Islam

0
1141
Dari kiri: KH Anwar Mansur, KH Anwar Iskandar, Prof Dr KH Said Aqil Siradj, KH Abdulloh Kafabihi Mahrus, dalam acara 'Reuni Akbar Ke V Himpunan Alumni Santri Lirboyo', Selasa (26/5). [Foto: Hafidz]

Kediri, nujateng.com- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siradj, mengatakan, bahwa keadaan dunia Arab yang akhir-akhir ini dirundung konflik antar warga negara, menjadikan umat Islam tidak bisa berharap banyak pada kemajuan peradaban Islam dari negara-negara Islam di Timur Tengah.

“Mesir masih gonjang-ganjing. Yaman perang saudara, Arab semua, Islam semua, sudah 6 bulan, yang mati sudah 2000 lebih. Apa yang bisa diharapkan dari negara seperti itu. Peradaban, kemajuan kebudayaan apa yang bisa kita harapkan, kemajuan apa untuk Islam, dari Irak, Yaman, Syiria, yang bisa kita harapkan tidak ada,” paparnya dalam acara ‘Reuni Akbar Ke V Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal)’ di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur, Selasa (26/5).

Karenanya, menurut pria kelahiran Cirebon 3 Juli 1953 ini, sudah saatnya umat Islam Indonesia memberikan contoh kepada dunia bahwa Islam di Indonesia yang tidak mempertentangkan antara agama dan nasionalisme, patut dijadikan sebagai kiblat beragama atau teladan dalam kehidupan beragama dan bernegara.

“Sudah saatnya yang menjadi qiblatul Islam, bukan qiblatus sholah, awas jangan salah paham. Qiblat budaya Islam, qiblat akhlak Islam, Indonesia. Indonesianya, nahdlatul ulama,” katanya.

Dalam pandangan kiai yang akrab disapa Kang Said ini, salah satu sebab konflik di Timur Tengah adalah karena tidak adanya rasa nasionalisme terhadap tanah airnya. Mencintai tanah air dengan cara menjaga, merawat, dan mempertahankannya dengan baik, harus diutamakan daripada berdakwah, karena dakwah tidak mungkin dilakukan apabila konflik terus berlangsung.

“Oleh karena itu Mbah Yai Hasyim Asy’ari selalu mengatakan, Islam dan nasionalisme harus saling memperkuat. Man laisa lahu ardl, laisa lahu tarikh. Wa man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakiroh. Barang siapa tidak punya tanah air, tidak akan punya sejarah. Sejarah ditulis di tanah air ini. Ada orang pidato, islam, islam, islam. Ini mau berjuang Islamnya di atas angin apa? Di atas tanah air. Oleh karena itu, tanah air dulu kita amankan, kita kuatkan, baru bicara Islam. Bangun masjid, madrasah, pesantren, di atas tanah air. Kalau tanah airnya konflik, perang saudara, kober mboten? (sempat tidak? red), gak sempat,” tegasnya.

Karena kehendak menjadikan Indonesia sebagai kiblat Islam, menjadi harapan bagi kemajuan peradaban, kemajuan akhlak, dan karakter bagi umat Islam di dunia, Muktamar NU yang akan digelar pada 1-5 Agustus mendatang di Jombang Jawa Timur mengambil tema: ‘Memperkokoh Islam Nusantara Sebagai Peradaban Indonesia dan Dunia’.

“Ada yang tanya; kenapa Islam Nusantara, tidak Islam Ahlussunnah wal jama’ah saja? Maksudnya Islam Nusantara itu ya Ahlussunnah wal jama’ah, Islam yang membawa hidayah  dan rohmah, Islam yang menyatu dengan budaya. Langit, wahyu, menyatu dengan kecerdasan manusia, budaya manusia, kreativitas manusia. Tidak bertentangan dengan budaya, tidak menghapus budaya,” jelasnya. [AR/002]