Gus Ubed: Jangan Merasa Suci Sendiri Mengecam Prostitusi

0
672
Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng), KH Ubaidullah Shodaqoh. [Foto: Munif Bams]

Semarang, nujateng.com- Petugas Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Selatan (Polrestro Jaksel) menangkap aktris berinisial AA beserta mucikarinya RA, yang diduga terlibat praktik prostitusi online. Prostitusi kelas kakap itu memasang tarif fantastis yakni sekitar Rp 80 juta hingga 200 juta kepada pelanggannya.

Dalam perkembangannya, RA ditetapkan sebagai tersangka. Sementara terduga AA dibebaskan, meskipun proses hukumnya masih berjalan. Kasus ini menyita perhatian banyak kalangan. Tak jarang di antara mereka memberi kecaman, makian, hingga seakan-akan perbuatan amoral itu hanya dilakukan oleh terduga, bukan menjadi “sisi gelap kewajaran” dalam rentang sejarah yang harus disikapi secara bijak.

Berikut ini wawancara ekslusif redaktur nujateng.com dengan Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng), KH Ubaidullah Shodaqoh, atau akrab disapa Gus Ubed, tentang perlunya menyikapi prostitusi dan tindakan amoral lainnya secara bijak, dan tidak melihatnya dengan mata kebencian yang menjadikan masalah bertambah runyam.

Bagaimana pendapat Gus Ubed mengenai kasus prostitusi online yang baru menetapkan mucikarinya sebagai tersangka. Sementara pelakunya tidak bisa dijerat dengan UU yang ada?

Gus Ubed: Kalau saya menyuruh orang untuk membunuh orang lain, maka yang terkena qishash (hukuman) itu orang yang membunuh. Saya tidak terkena hukuman, yang kena itu mubâsyir (orang yang melakukan, atau yang membunuh secara langsung, red). Misal kulo dodol pistol, dan pistol itu untuk membunuh orang, iku kan haram. Tapi kulo mboten kena qishash, iku umpamane.

Prostitusi itu sejak dulu sudah ada. Nah sekarang pelakune pripun (bisa kena hukuman atau tidak?). Nah sekarang undang-undang yang ada itu bagaimana? Persoalan zina itu sebaiknya dirahasiakan. Kalau ada orang zina ditanya, pasti jawabannya tidak melakukan. Untuk mengungkapnya, dalam Islam harus ada empat saksi. Kemarin ketika membahas tentang saksi hadir, pengertian hadir itu bagaimana?

Hadir itu hadir haqîqî (baca: hadir sungguhan). Jika diandaikan hadir itu bisa jarak jauh, ya saksi yang lewat CCTV mungkin diterima dalam masalah ini. Tapi yang selama ini dipilih oleh teman-teman mubâhitsîn (sebutan untuk pengkaji fikih dalam tradisi NU) yang membahas tentang saksi, ya saksi harus hadir haqîqî, ya nadhornya haqîqî (melihatnya harus secara langsung), langsung melihat kasus perzinaan itu sendiri. Tapi, itu kan tidak mungkin.

Ya memang pada masa kanjeng Nabi Muhammad pun hukuman jilid dan rajam, ya lebih banyak didasarkan pada pengakuan (pelaku zina). Ada orang yang mengaku bahwa dirinya betul-betul telah melakukan itu (zina, red). Ya sudah begitu itu hukumnya.

Kalau mau menelusuri kesalahan orang, ya semua orang punya salah. Dalam ajaran agama, kalau berbuat salah itu harus dirahasiakan. Ditutupi itu alamat dingampuro kalih pengeran (Merahasiakan perbuatan maksiat yang pernah dilakukan sembari bertaubat, memohon ampunan kepada Allah dapat mendatangkan ampunan-Nya). Ya ojo golek-golek salahe uwong. Nek ngerti ada perempuan tukang zina, ya jangan dekat-dekat, jangan dijadikan istri (Jangan mencari kesalahan orang lain, kalau tahu ada perempuan pezina ya jangan dekat-dekat, jangan dijadikan istri).

Selama ini, gerakan feminis banyak yang menggugat, kenapa pelangganya juga tidak dibuka ke publik. Selama ini yang sering disalahkan hanya pelaku perempuan, sementara yang laki-laki tidak pernah diungkap. Padahal bisa saja perempuan itu sedang menjadi korban?

Gus Ubed: Ya bolehlah kalau panjenengan berpendapat seperti itu. Tapi yang harus dipahami, itu prostitusi kelas rendahan. Semua itu saudara kita, semua harus kita bela, dan semua ada resikonya. Membela orang yang sedang dicacimaki karena terlibat prostitusi sering dituduh menyetujui adanya prostitusi. Nek njenengan masih takut dengan paidone wong maido, alemane wong aleman, ya uwis (Kalu anda masih takut dengan cacian dan tuduhan orang, atau senang dengan pujian orang, ya sudah tak usah berjuang).

Jadi itu (terungkapnya kasus prostitusi, red) harus menjadi autokritik bagi kita semua. Bukan hanya Deudeuh (PSK yang meninggal) dan AA (PSK kelas kakap), tapi banyak kasus-kasus moral itu. Bicara tentang moral, tapi moral kita sendiri bagaimana?

Saya ingin mengajak bahwa kita semua itu ikut bersalah dan bertanggung jawab, dengan kadar masing-masing. Njenengan ngerti sing gawe mushola ning JBL sana, itu dr Muhtadi, yang nyuruh Mbah Abdullah Salam. Kulo diceritani karo dr Muhtadi sendiri.

Ini supaya kita tidak merasa suci sendiri gitu lho. Bisane mung ngecam-ngecam tok, apa kalau sudah mengecam terus masalah itu akan selesai? Kan tidak.

Dalam kasus penangkapan AA, banyak aktivis-aktivis yang menuntut supaya pelanggannya juga diungkap karena bisa juga berkaitan dengan korupsi pejabat. Itu bagaimana Gus?

Gus Ubed: Kedudukannya tidak ada bedanya. Mau membuka pelaku ya bisa juga membuka siapa pelangganya. Dengan alasan moral, identitas pelakunya dibuka, sementara identitas pelanggannya tidak dibuka ya memang enggak adil. Nek dosa buka (aib) pelanggane ya sama, dosa juga membuka aib pelakunya, iku umpomo dosa.

Ini sebenarnya masalah tidak penting. Masalah bangsa Indonesia itu masih banyak. Masalah ini bukan persoalan prioritas. Wong kita sudah tahu semua praktik seperti itu sudah ada sejak masa kerajaan. Ya itu memang sudah watak, watak kekuasaan dan kekayaan. Nek ning coro orang Jawa ya “harta, tahta dan wanita” itu.

Cerita-cerita kerajaan sudah jelas itu, ada selir ada istri, lebih dari empat, itu sesuatu yang biasa. Gumunku kok (masalah prostitusi ini) dibesar-dibesarkan, padahal itu masalah bukan prioritas, iku ora penting. Kalau alasannya maksiat, yang lebih maksiat itu lebih banyak kok yang tidak diatasi. Gah kulo nek urusan gak penting (Saya gak mau mengurus yang tidak penting).

Sejak dulu, pejabat-pejabat, kerajaan-kerajaan itu seperti apa. Nah pada masa lalu masih ada konsep amat (perempuan budak, red).

Apakah itu bisa dianggap sebuah kewajaran?

Gus Ubed: Ya itu kewajaran pada masanya. Kewajaran saat ini bagaimana. Kadang kita menilai sesuatu pada masa lalu dengan masa sekarang. Itu bisa saja, karena ada nilai-nilai yang tetap atau tidak berubah (dari masa ke masa). Nilai (dalam kasus prostitusi itu) yang tidak berubah dalam masalah ini, adalah nafsu manusia terhadap harta, tahta dan wanita.

Ya nilai atau watak itu tidak bisa hilang. Itu sampai kiamat (tidak akan hilang). Pancen yang ada itu nafsu, ya bagaimana. Wong Nabi Daud sudah punya istri 99, masih pengin istri temannya. Memang kalau diukur dengan masa kini tidak wajar. Sayidina Husein misalnya, yang istrinya sampai 200 orang, nikah cerai-nikah cerai. Waktu itu wajar kan, karena siapa sih yang tidak ingin mendapat keturunan Kanjeng Rasul. Sayidina Ali melarang, malah ditentang oleh sahabat-sahabatnya. [Ceprudin/002]