Islam Awal Perspektif Tradisionalis dan Revisionis

0
1349
Cover buku Kontroversi Islam Awal; Antara Mazhab Tradisionalis dan Mazhab Revisionis

Oleh: Muhamad Zainal Mawahib

Pengajar di Pondok Pesantren Taqwal Ilah Semarang

 

 

Identitas Buku

Judul               : Kontroversi Islam Awal; Antara Mazhab Tradisionalis dan Mazhab Revisionis

Penulis            : Mun’in Sirry

Halaman         : 344 h.

Cetakan          : I, Februari 2015

Penerbit         : Mizan Pustaka

ISBN                : 978-979-433-863-6

Islam awal menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan muslim. Pada umumnya periode ini, kehidupan Nabi Muhammad, para sahabat dan generasinya, yakni generasi tabi’in diidealisasikan sebagai generasi terbaik (khayr qurun). Generasi terbaik inilah yang ingin dikembangkan dan diaktualisasikan oleh sebagian kelompok konservatif untuk membangkitkan kembali spirit salaf al-shalih (kaum shalih terdahulu) pada era sekarang ini.

Gerakan yang menyerukan kembali ke model generasi terbaik ini menjelama menjadi kekuatan reformis Islam yang paling berpengaruh di zaman modern. Hal ini terlepas dari perbedaan pendapat tentang siapa dan batasan periode yang dapat digolongkan sebagai salaf al-shalih. Walaupun demikian, mereka sepakat untuk meniru generasi pertama Islam sebagai sebuah standar kehidupan yang diidamkan.

Bahkan di kalangan pembaru muslim modern pun semangat menghidupkan kembali api Islam salaf al-shalih. Hal ini dibuktikan dengan munculnya konsep-konsep kunci dalam pemikiran Islam modern, seperti tajdid (pembaruan), ihya’ (revival) dan islah (reformis) yang memang kerap kali diasosiasikan dengan upaya untuk merekonstruksi dan menghidupkan kembali model berislam ala salaf al-shalih.

Hadirnya buku ini tidak lepas dari fenomena ini yang memperlihatkan betapa pentingnya mengkaji kembali Islam awal. Di mana dalam buku ini, mendiskusikan kembali berbagai perkembangan mutakhir dalam kesarjanaan menganil asal-usul Islam (Islamic origins) dengan dilihat dari perspektif tradisionalis dan revisionis. Di mana pendekatan tradisionalis merupakan cara pandang dalam melihat kelahiran dan perkembangan Islam awal, termasuk di dalamnya sejarah pembukuan al-Qur’an sebagaimana disajikan dalam kitab-kitab sirah (biografi Nabi Muhammad) yang ditulis oleh sejarawan muslim.

Sedangkan perspektif revisionis -yang mulai berkembang pada tahun 1970-an- menyoroti kembali dengan tajam dan mempersoalkan narasi tradisional yang sudah menjadi master narrative dan menawarkan suatu penjelasan alternatif. Kelompok ini menawarkan suatu penjelasan tentang Islam awal yang sama sekali berbeda dengan penjelasan kaum tradisionalis yang sudah diterima luas kaum muslim.

Dengan menggunakan kedua perspektif di atas, buku ini fokus mengkaji tentang tiga aspek penting dalam sejarah Islam awal, yakni biografi Nabi Muhammad, sejarah al-Qur’an dan ekspansi kekuasaan yang dipaparkan dalam 5 (lima) bab. Pada bab satu secara khusus mendiskusikan berbagai persoalan terkait sumber-sumber untuk merekonstruksi Islam awal. Dari ketiga problem dasar yang inheren dalam sumber-sumber muslim tradisional dianalisis secara detail. Ternyata pada belakangan, kitab-kitab itu mengandung banyak kontradiktif dan merefleksikan perkembangan yang terjadi pada masa kitab-kitab itu ditulis yang diproyeksikan ke zaman terdahulu.

Bab dua membahas berbagai teori tentang kemunculan Islam awal yang ditawarkan oleh sarjana-sarjana tradisionalis dan revisionis. Pada bab ini menunjukkan pada akhir abad dua puluh dan awal abad dua puluh satu, bidang studi Islam tentang asal-usul Islam secara khusus telah diperkaya oleh sejumlah teori kesarjanaan yang beragam. Pada satu pandangan, kesarjanaan tradisional cenderung menerima sumber-sumber tradisional secara taken for grated. Sedangkan pada pandangan lain, kesarjanaan revisionis cenderung skeptis radikal yang menolak sumber-sumber tradisional secara total.

Pada bab tiga, pembaca diajak untuk mendiskusikan kembali al-Qur’an dalam periode formatif. Di mana pada bab ini diawali dengan pandangan tradisional yang menggambarkan al-Qur’an sebagai wahyu ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad di Makkah dan di Madinah, kemudian ditransmisikan secara lisan dan tulisan. Kitab suci ini dikodifikasi sebagai mushaf resmi pada periode cukup awal, akni padamasa khalifah Abu Bakar. Selanjutnya pandangan ini dibandingkan dengan perspektif kesarjanaan modern, termasuk gagasan kontroversial John Wansbrough yang menyatakan bahwa stabilitas teks al-Qur’an baru terjadi pada awal abad 19 masehi.

Kemudian bab empat mengembangkan argumen terakhir dalam ranah kajian biografi Nabi. Dalam buku ini menunjukkan perbedaan yang menonjol antara narasi-narasi sirah dan al-Qur’an. Misalnya, jika al-Qur’an menekankan aspek kemanusiaan Nabi Muhammad, namun dalam kitab-kitab sirah yang ditulis oleh ulama-ulama muslim menyuguhkan potret Nabi dengan cerita-cerita yang legendaris dan mitos. Diskuri panjang lebar dalam bab ini dalam upaya merekonstruksi sejarah Nabi Muhammad, yakni Nabi yang hidup dalam sejarah yang sebenarnya terjadi, bukan sejarah yang diidealisasikan dan diagungkan.

Bab lima yang merupakan bab terakhir ini mendiskusikan soal penaklukan dan ekspansi kekuasaan Islam. Lebih khususnya pembahasan tentang masalah yang biasa disebut dengan futuh (pembukaan) dalam sumber-sumber muslim atau conquest (penaklukan) dalam literatur Barat. Sebab persoalan ini merupakan masalah yang penting karena menyentuk persoalan asasi. Yakni proses kristalisasi Islam menjadi agama yang kita kenal sekarang ini.  Dalam bab ini juga memperlihatkan perbedaan yang tajam antara kelompok tradisionalis dan revisionis.

Buku karya Mun’im Sirry ini menjadi penting kehadirannya di tengah-tengah perkembangan wacana pada era sekarang ini. Selain itu juga buku ini dalam rangka meramaikan kembali wacana akademisi di negeri ini dan mendorong pembaca untuk tak pernah berhenti mencari kebenaran. Walhasil, buku ini layak untuk dibaca oleh peminat studi Idlam dan studi agama. Sebab buku ini akan memberikan pembelajaran betapa beragamnya hasil-hasil penelitian para sarjana tentang Islam awal.