Hukuman Mati Itu Wajar-Wajar Saja

0
770
Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng), KH Ubaidullah Shodaqoh. [Foto: Munif Bams]

Semarang, nujateng.com- Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly mengungkapkan, masih terdapat sebanyak 133 orang terpidana mati yang belum dieksekusi. Rinciannya, terpidana mati terkait kasus narkotika berjumlah 57 orang, dua orang kasus terorisme dan 74 orang kasus pidana umum. Pidana mati di Indonesia masih menyisakan banyak perdebatan. Ada yang mendukung ada pula yang menolak. Lalau bagaimana menurut pandangan NU? Simak wawancara eksklusif redakur nujateng.com bersama Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shadaqah atau akrab disapa Gus Ubed.

Menurut Gus Ubed, bagaimana adanya hukuman mati di Indonesia?

Gus Ubed: Dasarnya itu ayat wa lakum filqhisshi hayâtun. Artinya dalam ayat tersebut menghukum yang satu itu untuk menyelamatkan yang banyak, di mana dalam keadaan bahaya. Dan bahaya itu sudah muhaqqaqah (nyata). Nah, (salah satu contoh yang menjadi perdebatan di Indonesia adalah hukuman mati bagi pengedar narkoba). Bahaya narkoba itu sudah termasuk bahaya muhaqqaqah. Kalau saya, bukan karena alasan kematian pengguna narkoba, tapi lebih karena merusaknya moral pengguna narkoba itu.

Nek mati yo wes ben mati (kalau mati ya sudah selesai, biarkan meninggal), tapi sebelum itu kan merusak akhlak, pendidikan, dan semua segi kehidupan masyarakat. Ya itu karena narkoba itu. Kalau pengedarnya itu dihukum mati ya wajar-wajar saja. Cuman (memang) masalahnya apakah kesalahan pada pengedar itu saja, nah itu masalahnya, jadi ada masalah lain.

Masalahnya ini kan banyak sekali. (Ada masalah) karena penegakan hukum juga pencegahan secara preventif itu tidak begitu intensif. Malah ada kesan dibuat main-main. (Salah satu contoh) bagaimana seorang bandar yang masih bisa mengendalikan dari dalam lapas, itu masalah. Namun itu masalah lain, masalah penegakan hukum itu masalah lain.

Lalau bagaimana pendapat Gus Ubed mengenai sebagian kalangan yang berpendapat bahwa hukuman mati itu bertentangan dengan HAM?

Gus Ubed: Kalau tanggapan tentang masalah HAM, ya kalau dilihat dari sisi HAM biasanya (lebih memilih hukuman seumur hidup) dengan hukuman seumur hidup. Nek menurute kulo lebih ngenes hukuman seumur hidup (menurut saya lebih sedih kalau dihukum seumur hidup). Memang kalau ditembak itu mengerikan, yo rak iso milih (ya tidak bisa memilih). Ya kalau dari sisi HAM kan sering dikaitkan dengan hak hidup.

(Namun yang harus dimengerti) semua manusia memang punya hak hidup. Tapi juga harus diperhatikan hak hidup orang lain. Karena dia merampas hak hidup orang lain sebagai hukumannya memang namanya hukuman itu ya spesialis kan. Kita tidak boleh mengekang kebebasan seseorang, penjara pun kalau dilihat secara HAM kan itu menentang hak asasi.

Tapi kan sing jenenge hukum yo ngono kui (yang namanya hukum ya begitu itu), hukum itu memang merampas hak-hak. Jadi ndak bisa. (Tentunya) dalam hal ini kriterianya harus ketat, orak sembarangan (tidak sembarangan). Saya yakin pemerintah juga sudah sangat berhati-hati dalam melakukan eksekusi mati ini. (Bisa menjadi contoh) dengan ditundanya beberapa kali eksekusi mati dan masa rentan sampai dilaksanakan hukuman mati itu kan sudah panjang.

Ya diberikan kesempatan barangkali ada grasi atau fakta baru (bukti baru) ya sudah diberi kesempatan. Jadi itu menunjukan kalau pemerintah sudah berhati-hati dalam melaksanakan hukuman mati. [Ceprudin/002]