Dalil Tentang Keharaman Radikalisme

0
15787
[Foto: www.egypt1.info]

Oleh: KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Lc*

الحمد لله الذي عمت آلاؤه جميع مخلوقاته. فأبى أكثر الناس إلا كفورا. ونصب من الآيات الباهرات ما دل على وحدانيته فعميت بصائر الكافرين والمنافقين فما زادتهم إلا نفورا. وبصّر المؤمنين في التفكير في آياته فأشرقت قلوبهم بالإيمان به منا وتيسيرا

أحمده سبحانه حمد عبد عرفه حق معرفته. وأشكره شكرا كثيرا. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله بالحق بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه ومن تعبهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا

أما بعد فيا أيها الناس اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Hadirin Rohimakumullah

Dalam sebuah riwayat yang tertulis pada kitab Musnad Ahmad bin Hambal tertulis:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ : حَدَّثَنَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَسِيرُونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ ، فَنَامَ رَجُلٌ مِنْهُمْ ، فَانْطَلَقَ بَعْضُهُمْ إِلَى نبْلٍ مَعَهُ ، فَأَخَذَهَا ، فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ فَزِعَ ، فَضَحِكَ الْقَوْمُ ، فَقَالَ : مَا يُضْحِكُكُمْ ؟ ، فَقَالُوا : لا ، إلا أَنَّا أَخَذْنَا نبْلَ هَذَا فَفَزِعَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

Dari Abdurrahman bin Abi Laila berkata: suatu ketika sejumlah sahabat melakukan perjalanan bersama Rasulullah. Ketika beristirahat, salah satu di antara mereka tertidur pulas. Sedang beberapa sahabat yang lain masih terjaga. Kemudian mereka mengambil tombak seseorang yang tertidur itu dengan maksud menggodanya (bercanda). Maka ketika yang tertidur itu bangun, paniklah ia karena tombaknya hilang. Kemudian sahabat-sahabat yang lain tertawa. Maka Nabi bertanya, “apa yang membuat kalian tertawa?” Para Sahabat menjelaskan candaan tadi. Lalu Nabi pun bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim membuat panik muslim lainnya!”

Riwayat tersebut patut kita renungi secara lebih mendalam. Peristiwa dalam riwayat itu sekilas nampak merupakan peristiwa biasa, bahkan terkesan hanya sebuah candaan, yaitu beberapa orang sahabat Nabi menggoda teman mereka yang ketiduran dengan menyembunyikan tombaknya. Namun sikap Nabi kemudian tiba-tiba menjadi sangat serius. Dan bahkan kemudian Nabi bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim membuat panik muslim lainnya!”

Hadirin Rohimakumullah

Sangatlah jelas bagi kita bahwa candaan para sahabat Nabi itu kemudian justru mengakibatkan reaksi Nabi yang sangat serius hingga Nabi bersabda “Tidak halal bagi seorang muslim membuat panik muslim lainnya!” Peristiwa ini dapat menimbulkan persepsi bahwa figur Nabi adalah figur yang serius, di mana candaan di atas kemudian disikapi Nabi dengan sabda yang sangat serius seperti itu. Atau dengan kata lain, peristiwa itu bisa menimbulkan pemahaman bahwa Nabi tidak membolehkan kita bercanda.

Tapi, benarkah Nabi memang tidak suka bercanda?

Hadirin Rohimakumullah

Nabi seperti yang digariskan oleh Allah dalam sejumlah ayat Al-Quran adalah sosok yang ramah dan santun dan tentu saja tidak menolak candaan. Kita baca misalnya ayat berikut:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Yang artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.

Juga dalam ayat lain yang sering kita dengar, Allah berfiman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Hadirin Rohimakumullah

Dari 2 ayat tersebut sangatlah jelas figur Nabi yang lemah lembut dan tidak suka kekerasan. Lalu kembali kepada pertanyaan atas peristiwa candaan/guyonan di atas yang kemudian ditanggapi secara serius oleh Nabi. Kita tetap akan bertanya, mengapa seolah dalam peristiwa tersebut Nabi tidak berkenan atas para sahabat yang tengah bercanda?

Jawabannya mudah: yaitu karena bercanda itu harus ada tempatnya. Dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur disebutkan bahwa suatu saat Nabi bercanda dengan seorang Ibu tua renta, di mana Nabi berkata bahwa kelak di surga tidak akan ada lagi orang tua seperti sang Ibu. Kontan saja Ibu itu menangis dan mengira bahwa dirinya tidak akan bisa masuk surga. Namun kemudian Nabi segera menjelaskan bahwa sang Ibu Insyaallah akan masuk surga, akan tetapi kelak di surga, sang Ibu tua itu akan menjelma muda kembali. Ini adalah salah satu contoh candaan Nabi dengan para sahabatnya.

Nah, jika dalam peristiwa di atas Nabi tiba-tiba menyambut candaan para sahabat dengan sabda beliau “Tidak halal bagi seorang muslim membuat panik muslim lainnya!”, maka itu berarti bisa kita fahami bahwa perkara membuat panik orang lain adalah perkara serius yang tidak boleh dibuat sebagai bahan guyonan atau candaan.

Dengan kata lain, “membuat panik orang lain” adalah memang persoalan besar yang dilarang oleh Rasulullah Saw. Ini berarti pula harus kita garis bawahi, bahwa kalau dalam rangka bercanda saja kita tidak boleh membuat orang lain panik atau ketakutan, maka apalagi jika dalam kondisi serius. Tentu adalah sangat haram membuat orang lain ketakutan.

Hadirin Rohimakumullah

Lebih jauh dalam riwayat Imam Al-Bazzar dan At-Tabrany tertulis berikut ini:

أن رجلًا أَخَذَ نَعْلَ رَجُلٍ فَغَيَّبَهَا أي أَخْفَاهَا وَهُوَ يَمْزَحُ، فَذَكَرَ ذلك لِرسولِ الله فقال: لا تُرَوِّعُوْا المسلمَ، فإنَّ رَوْعَةَ المسلمِ ظُلْمٌ عظيمٌ

Seseorang mengambil sandal orang lain dengan bercanda. Lalu hal itu dibicarakan kepada Nabi dan Nabi pun bersabda, “Jangan kalian membuat panik seorang muslim. Sebab membuat panik seorang muslim adalah kedhaliman yang besar!”

Riwayat ini juga jelas senada dengan riwayat Imam Ahmad di atas. Dan untuk melengkapi dalil-dalil yang mengharamkan kita menakut-nakuti atau membuat panik orang lain, maka mari kita baca hadits riwayat Abu Syaikh dan At-Tabrany berikut:

مَنْ نَظَرَ إلى مُسلمٍ نَظْرَةً يُخِيْفُهُ فِيْهَا بِغيرِ حَقٍّ أَخَافَهُ اللهُ تعالى يومَ القيامة

Barangsiapa melihat muslim lainnya dengan penglihatan yang menakutkan tanpa alasan yang dibenarkan, maka  nanti di hari kiamat Allah akan menakut-nakutinya.

Hadirin Rohimakumullah

Dari 3 hadis di atas, menjadi sangat jelas bagi kita bahwa haram hukumnya membuat orang lain ketakutan atau panik, meskipun itu hanya sekedar dalam rangka bercanda. Maka yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah: mengapa akhir-akhir ini semakin marak gejala radikalisme dan terorisme? Bukankah terorisme berasal dari kata teror yang artinya adalah menakut-nakuti?

Jika demikian halnya, apakah benar jika para teroris itu menisbahkan dirinya kepada Islam? Tentu jawabannya adalah tidak benar.

Tidak benar jika Islam melegalkan terorisme. Dan itu sudah sangat amat jelas termaktub dalam 3 hadis yang disampaikan di atas. Apalagi jika teror itu diarahkan kepada sesama kaum muslimin. Bahkan hingga kepada selain kaum muslimin sekalipun, teror itu tetap tidak dibenarkan dalam Islam.

Islam hanya memperbolehkan melancarkan teror kepada mereka yang secara jelas mengangkat senjata melawan kaum muslimin di medan perang. Artinya, terhadap non muslim pun, kita tidak boleh melakukan teror kecuali terhadap non muslim yang tengah mengangkat senjata memerangi kita di medan perang. Adapun terhadap non muslim yang hidup dalam satu Negara yang aman dan damai, kita tetap diperintahkan untuk menjaga perdamaian dan kerukunan itu. Bahkan terhadap kaum Majusi yang atheis pun ada sebuah riwayat hadis berikut ini:

قال عبد الرحمن بن عوف سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: سنوا بهم سنة أهل الكتاب

Abdurrahman bin Auf berkata, “Aku mendengar Nabi bersabda: perlakukan mereka seperti kita memperlakukan Ahlul Kitab.”

Hadirin Rohimakumullah

Terlalu banyak dalil-dalil yang mengharamkan terorisme. Dan Islam sama sekali tidak memperbolehkan teror kecuali di medan peperangan. Sebab kata Nabi: Perang adalah tipuan. Dan di antara tipuan itu adalah menciptakan rasa takut pada diri musuh. Dan sekali lagi ini hanya berlaku untuk musuh di medan perang, bukan dalam sebuah Negara yang aman damai seperti negeri kita NKRI.

Barangkali masih ada beberapa ayat yang masih belum dipahami oleh mereka para teroris dan kaum radikal. Khutbah ini kita akhiri dengan upaya meluruskan pemahaman mereka atas salah satu ayat Allah yaitu:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّار

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir.

Sekilas, ayat itu menyuruh kita untuk bersikap keras terhadap semua non muslim tanpa terkecuali. Akan tetapi itu adalah pemahaman yang keliru. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat itu harus dipadu dengan beberapa ayat yang lain yaitu At-Taubah 123:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitarmu itu dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari kalian.

Yang harus digarisbawahi adalah ayat al-ladzîna yalûnakum الَّذِينَ يَلُونَكُمْ yang berarti adalah hanya orang-orang kafir yang mengangkat senjata memerangi kita. Bukan orang kafir atau non muslim yang hidup damai dan rukun dengan kita dalam suatu Negara. Ini juga ditegaskan dalam ayat lain:

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً

Artinya bahwa perintah memerangi kaum musyrikin itu adalah didasarkan karena mereka memerangi kita sebelumnya.

Kesimpulannya adalah bahwa Islam tetap mengharamkan terorisme kecuali kepada mereka yang tengah mengangkat senjata memerangi kita di medan perang. Hanya itu saja. Dan selain itu, hukum terorisme tetap haram seperti yang telah kita pahami dari 3 hadis di atas.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم، وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين

====

Khutbah II

الحمد لله المنعوت بصفات التنزيه والكمال. وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ثني الخصال. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصبحه والتابعين. عباد الله اتقوا الله فإنكم عليه تعرضون. واعلموا أن الله صلى على نبيه في كتابه المكنون وأمركم بذلك فأكثروا من الصلاة عليه تكونوا من الفائزين. اللهم صل وسلم عليه وارض عن الأربعة الخلفاء، وبقية العشرة الكرام وآل بيت نبيك المصطفى. وعن الأنصار والمهاجرين والتابعين إلى يوم الدين

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات رب العالمين. ونسألك اللهم دوام العناية والتأييد، بحضرة مولانا سلطان المسلمين المؤيد بالنصر والتمكين. اللهم انصره وانصر عساكره وامحق بسيفه رقاب الطائفة الكافرة، وأيد بسديد رأيه عصابة المؤمنين. واجعل بفضلك هذا البلد آمنا مطمئنا. وارفع اللهم مقتك وغضبك عنا. ولا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا يا أرحم الراحمين

اللهم إليك نسأل فلا تخيبنا، وإليك نلجأ فلا تطردنا، وعليك نتوكل فاجعلنا لديك من المقربين. إلهي هذا حالنا لا يخفى عليك. فعاملنا بالإحسان إذ الفضل منك وإليك. واختم لنا بخاتمة السعادة أجمعين

عباد الله  إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر

*Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jawa Tengah