Civic-Islam Mulai Konsolidasi di Jateng

0
760
Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial-Politik dari The Institute of National Upgrade of Indonesia (NUINDO), Andy Yoes Nugroho. [Foto: Ferli HS]

Temanggung, nujateng.com- Gerakan Civic-Islam yang belakangan ini muncul di Bandung Jawa Barat mulai melebarkan kegiatannya di Jawa Tengah.  Ditemui oleh nujateng.com di Temanggung, Selasa 19 Mei 2015, Andy Yoes Nugroho, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial-Politik dari  The Institute of National Upgrade of Indonesia (NUINDO) menceritakan bahwa ia dan teman-temannya sudah aktif melakukan konsolidasi gerakan di beberapa kampus seperti di Wonosobo, Temanggung, Magelang, Tegal dan Pekalongan.

“Sementara ini belum membuat forum resmi untuk sosialisasi atau bentuk kegiatan sebagaimana yang sudah dilakukan di Bandung. Dengan pendekatan personal masuk ke komunitas mahasiswa dan tokoh-tokoh organisasi masyarakat, ternyata juga efektif karena memang ide Civic-Islam ini cukup menarik. Beberapa bulan ke depan kita akan agendakan kegiatan seminar, pelatihan dan aktivitas keilmuan di kampus-kampus Jawa tengah,” terangnya.

Civic-Islam merupakan gagasan penting di Indonesia. Kemunculannya berangkat dari hasil riset AE Priyono, seorang peneliti ilmu sosial-politik dan keagamaan dari Public-Virtue Institute dan sekarang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Jakarta.

Andy juga menceritakan, bahwa pergerakan Civic-Islam ini erat berkait dengan dua organisasi massa besar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Beberapa bulan belakangan, kegiatan Civic-Islam bersama aktivis  Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Jawa Barat sudah terjalin erat. Bahkan  silaturahmi dengan ketua PBNU KH Said Aqil Siradj sudah terjalin baik.

“Civic-Islam itu merupakan kebutuhan untuk menjawab persoalan-persoalan hubungan kewargaan dengan negara. Jadi mula-mula Civic-Islam harus dipahami sebagai keilmuan yang menawarkan perspektif baru gerakan Islam-demokratik yang inklusif dan progresif untuk mengatasi kebuntuan demokrasi di Indonesia,” papar Andy.

Menurut Andy, Islam harus hadir sebagai bagian penting dalam arus demokratisasi di Indonesia karena dari sisi mayoritas, warga-bangsa Indonesia berbasis Islam dan sekalipun politiknya sekuler, namun umat Islam tak bisa dipisahkan dari urusan identitas. “Sekalipun kita memakai nama Islam karena memang konsepsi yang akan ditawarkan itu juga berpijak dari konteks keagamaan, namun Civic-Islam merupakan gerakan substantive dalam mengusung virtue (nilai),” jelasnya.

Andy menambahkan, semangat Civic-Islam dalam ranah publik politik Indonesia adalah mengawal demokrasi di Indonesia agar benar-benar bernilai guna bagi rakyat, bukan hanya semata berguna bagi elit politik.

“Selama 15 tahun terakhir demokratisasi berjalan, kecenderungan politik elitis telah membajak demokrasi. Itulah mengapa demokrasi sering dinilai gagal karena tak mampu membawa keadilan, kesejahteraan dan emansipasi rakyat. Kita mencoba melakukan hal tersebut. Tak lama lagi, Jawa Tengah, terutama di kota-kota tertentu akan menjadi basis kegiatan Civic-Islam,” terangnya. [Ferli HS/002]