Potret Interaksi Tionghoa dan Santri di Lasem

0
1025
Munawir Aziz [Foto: Munif]

*Diskusi Bulanan PW Lakpesdam NU Jawa Tengah

Semarang, nujateng.com- Interaksi antara warga Tionghoa, Arab dan Jawa sudah terjalin cukup lama di tanah Jawa. Hubungan itu berjalan secara dinamis. Harmoni dan konflik selalu berjalan beriringan dalam interaksi masyarakat multicultural tersebut.

Munawir Aziz, staf pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Matholi’ul Falah (Staimafa) Pati menyampaikan hal tersebut dalam diskusi bulanan Pengurus Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (PW Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Jum’at (24/4/2015). Diskusi yang dihelat di hall kantor Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) itu diikuti oleh 25an aktivis kajian dan pengurus lembaga di lingkungan PWNU Jawa Tengah.

Aziz menyampaikan bahwa di Lasem, kota yang kerap disebut sebagai Tiongkok kecil, interaksi antara masyarakat Tionghoa dan santri sempat terganggu semasa transisi reformasi. “Secara historis, masyarakat Tionghoa terus berada di pusaran konflik. Di Batavia tahun 1740, Surakarta (1916), Kudus (1918), Surabaya (1946), Jakarta dan juga Rembang pada tahun 1998,” terang alumnus program pascasarjana, Center for Cross Culture Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.

Kerusuhan Mei 1998, tambah Aziz, menjadi mimpi buruk bagi orang Tionghoa di Indonesia, karena menjadi korban kerusuhan massal di berbagai penjuru negeri ini. Orang-orang Tionghoa menjadi korban kekerasan di Jakarta, Singkawang, Surabaya, Surakarta, Semarang dan Lasem. “Kekerasan terhadap orang Tionghoa ini kemudian menjadi isu politik pada detik-detik lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan di negeri ini,” sambung Aziz.

Jika orang-orang Tionghoa di berbagai kota di Indonesia mengalami trauma mendalam, hal ini berbeda dengan kondisi di Lasem, Jawa Tengah. Di kota ini, resolusi konflik dan rekonsiliasi menjadi agenda penting dalam interaksi orang Tionghoa dan Santri di kota ini.

Pada masa kerusuhan terjadi, orang-orang Tionghoa (baik muslim maupun non-muslim) dan santri menjalin interaksi untuk menyelesaikan konflik dengan menguatkan silaturahmi dan menggunakan modal sosial untuk membangun kepercayaan pasca konflik. Strategi silaturahmi menjadi bagian penting untuk menyelesaikan konflik dan membangun kepercayaan dengan modal sosial.

Secara historis, di Lasem misalnya kita mengenal persaudaraan antara Oie Ing Kiat (orang Tionghoa), Raden Panji Margono (priyayi Jawa) dan Kiai Baidlawi seorang kyai pesantren. Pasca 1998, upaya untuk mencegah menjalarnya konflik lebih luas. “Saat itu ada forum Forum Komunikasi Masyarakat Lasem atau FKML yang terus melakukan dialog dengan intens,” terang Aziz.

Di akhir pembicaraan, Aziz menyimpulkan kalau di Lasem, jejaring sosial antar komunitas membangkitkan modal sosial untuk mengkonstruksi harmoni dalam relasi sosial. Selain itu, modal sosial dan jejaring sosial berperan dalam ritus keseharian dan situasi politik. “Sehingga modal sosial dan dukungan jejaring sosial berbasis komunitas kultural, perasaan bersama dan eksistensi ruang publik berkontribusi untuk membentuk pola harmoni sosial antar warga,” pungkas Aziz. [T-Kh/001]