Pengamat: Radikalisme Tidak Bisa Diselesaikan Dengan Kekerasan

0
969
Agus Maftuh Abegebriel (kiri) dalam Seminar dan Bedah Buku ‘Menangkal ISIS dan Al-Qaeda Untuk Indonesia Damai’ di UIN Walisongo Semarang, Jum’at (27/3). [Foto: Bams]

Semarang, nujateng.com Pengamat Terorisme dan Ideologi Transnasional, Agus Maftuh Abegebriel, menyebutkan, Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) sengaja membungkus gerakan kemerdekaan mereka dengan simbolisme keagamaan. Bahkan, menurutnya, ISIS merupakan sekumpulan pemberontak yang kemudian menjual ideologi menjadi kekuatan internasional. “Maklum, ISIS ini jualan ideologi Islam radikal. Namanya Islam politik, yang embrionya sudah banyak di Indonesia,” tutunya dalam Seminar dan Bedah Buku ‘Al-Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya (2014)’ karya As’ad Said Ali di Auditorium II Kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jum’at (27/3) satu pekan lalu.

Pengajar Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta itu, menjelaskan, kelompok-kelompok militan yang datang dari berbagai Negara itu mereka bertemu di Pesyawar yang kemudian disebut sebagai alumni The Virtual Universities. Dia menerangkan, jika dikaitkan, radikalisme mereka ini tentu tidak bisa dilepaskan dari peran CIA dalam Operasi Merah. “Al Qaedah, JI, MILF memang kelompok-kelompok radikal. Hanya saja, mereka tidak berasal dari akar yang sama,” ujarnya.

Selain itu, dia menyatakan, untuk menghentikan terorisme jangan dilawan dengan menciptakan teror yang sama. Karena tindakan terorisme, khususnya di Indonesia, menurutnya, harus dilawan dengan smart operations. Yaitu, dengan mengampanyekan Islam damai dan dengan melumpuhkan landasan epistemologi. “Kalau dalam tradisi keilmuan pesantren, teroris telah melakukan tasyisun nushus al-muqaddasah. Sebuah politisasi terhadap teks-teks suci keagamaan dan pemerkosaan, pencabikan serta pengoyakan terhadap wilayah suci agama,” terangnya.

Meskipun demikian, Agus mengakui, radikalisme tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan. Menurutnya, menghadapi jaringan ideologi kekerasan yang masuk ke Indonesia perlu 4 D. Dia mengungkapkan, yaitu menolak semua ideologi kekerasan yang membahayakan keutuhan NKRI (Deny). Lalu, sambungnya, menaklukkan serangan ideologi terorisme (Defeat) dan meminimalisasi ruang gerak jejaring penebar teror dan para suporternya (Diminish). “Terakhir, dengan mempertahankan dan mendukung komunitas penebar ‘damai untuk semua’ dan penebar jargon ‘jihad untuk hidup bersama dan bukan untuk mati bersama (defence),” bebernya.

Terpisah, sejarawan muda NU, Zainul Millah Bizawie, menambahkan, munculnya terorisme di beberapa negera karena kekuasaan dan ketidakadilan. Maka dari itu, lanjut dia, Indonesia adalah contoh unik di mana para tokoh agama dan cendekiawan nasionalis dapat merumuskan dasar Negara yang secara esensial tidak bertentangan. Bahkan, menurutnya, prinsip-prinsip itu telah ditegakkan atas dasar pesan moral rahmatan lil-‘alamin. “Itulah Pancasila, sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis bangsa kita ini,” pungkasnya. [Bams/002]